Diteror oleh Elkaha

Di tengah penantian saya pada novel ketiga Majapahit karangan Elkaha (Langit Kresna Hariadi), terbit sebuah novel tebal Elkaha yang diberi judul Teror. Cover buku ini saja sudah meneror saya, sebab ukuran huruf nama sang pengarang jauh lebih besar daripada judul bukunya, ditambah embel-embel tulisan Penulis novel best seller Gajah Mada.

Cover Teror mengingatkan saya pada novel Elkaha sebelumnya yang berjudul Selingkuh. Maksudnya, ukuran huruf sang pengarang lebih ditonjolkan. Selingkuh diterbitkan juga oleh Penerbit Narasi (2013) yang sampai saat ini belum saya baca, masih sekedar untuk koleksi belaka bahwa saya juga punya novel Elkaha bergenre bukan sastra sejarah. Novel yang di masa lalu berjudul Serong, oleh Penerbit Narasi diterbitkan kembali dengan judul Selingkuh, setebal 314 halaman.

Mungkin ini sengaja dibikin oleh penerbitnya, supaya novel ini laku. Loh, bukannya Elkaha itu penulis terkenal sehingga apa pun yang ia tulis bakal dibaca penggemarnya? lanjutkan baca

Beladjar Riwajat Djawa dari Kartoe Pos

Judul: Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe • Penulis: Olivier Johannes Raap • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (November 2013) • Tebal: ix+189

Belajar kebudayaan Jawa tempo dulu dapat melalui kartu pos. Adalah Mas Oliver Johannes Raap kolektor ribuan benda antik Indonesia, bersama 140 lebih koleksi kartu pos bercerita tentang Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe. Koleksi kartu pos di dalam buku ini menggambarkan suasana Pulau Jawa akhir masa kolonial yaitu dekade 1900 – 1940. lanjutkan baca

Dongeng-dongeng Sapardi

Perempuan pertama yang ditemuinya hampir tertabrak olehnya. Malin gembira telah menemukan ibunya dengan mudah. Ia langsung bersujud di hadapannya, mengucapkan kata-kata yang hanya bisa ditemui dalam dongeng-dongeng yang bisa mengharu biru.

“Ibu, saya anak yang telah mendurhakai Ibu. Saya minta maaf atas dosa yang tak bisa ditakar itu, Ibu.”

Perempuan itu terkejut, memandangnya dengan curiga.

“Aku tidak mengenalmu, Nak. Kamu ini siapa?”

“Saya Malin, Si Anak Durhaka.”

“Lho, Nak, mana ada anak yang durhaka kepada Ibunya!”

Tatapan Malin tampak tambah masak, perempuan itu membayangkan ada air mendidih di mata lelaki muda itu.

“Demi Allah, Nak, aku bukan ibumu. Masuklah ke kerumunan itu, siapa tahu yang kau cari ada di situ.” lanjutkan baca