Nglaras rasa

Tiga minggu lalu saya menengok ibu sekaligus nyekar ke makam bapak – tentu saja juga ke makam simbah, secara bulan sudah masuk Ruwah, menjadi adat orang Indonesia menengok dan mendoakan para marhum sebelum masuk bulan Puasa.

Selepas subuh saya berangkat ke makam. Sepulang nyekar saya duduk di balai kayu bikinan tangan bapak, yang terletak di teras rumah. Ibu telah membuatkan kopi hitam dan ubi goreng sebagai kudapan yang ditaruh di balai kayu tersebut.

Matahari belum juga meninggi. Pagi-pagi duduk di teras, menyeruput kopi dan tidak melakukan apa-apa. Hmm, sebahagia inikah menjadi seorang pensiunan? read more

40 kambing dan satunya anjing

Di suatu  peternakan nan asri, tinggal seorang lelaki tua bersama seekor anjing yang sangat setia kepadanya. Anjing tersebut sering berperilaku seperti manusia pada umumnya, misalnya ia bisa menyediakan kopi-susu bagi tuannya atau bahkan menemaninya ngobrol di siang hari kala ia sedang tidak terlalu sibuk bekerja.

Tugas utama anjing pintar itu sebetulnya menjaga 40 kambing milik Pak Tua tersebut. Berbekal peluit dan catatan berisi daftar nama kambing (ya, ke-40-nya mempunyai nama masing-masing), pagi-pagi sekali ia akan membuka kandang, meniupkan peluit dengan lantang, lalu ia mengabsen para kambing yang secara tertib keluar dari kandang. Nanti di sore hari, ia akan kembali mengabsen para kambing dan memastikan mereka semua masuk ke dalam kandang.

Di area peternakan tersebut, Pak Tua juga memelihara tiga ekor babi, seekor banteng, sepasang ayam dan kadang-kadang datang juga seekor kucing yang masuk rumahnya sekedar mencari sisa makanan.

***

Pada suatu hari, Pak Tua pergi ke kota dengan mengendarai mobil bututnya. Para kambing bersorak gembira, sebab mereka bisa bebas bermain sesuka hati. Permainan yang mereka pilih adalah bermain bola. Seperti halnya manusia, mereka membagi menjadi 2 tim, masing-masing sebelas kambing. Mereka yang tidak ikut bermain bola menjadi tim hore di sisi tepi lapangan. Permainan yang sangat seru. read more

Jurus mengelak

Memang sudah menjadi kodratnya manusia: selalu mengelak, bahkan pada saat kepepet sekalipun. Justru pada saat kepepet seperti itu ide brilian untuk mengelak berhamburan dari otaknya. Mengelak berarti mempertahankan diri dari serangan lawan. Mengelak juga berarti ingin lari dari tanggung jawab. Ada yang bernasib baik, ada yang apes.

[1]

Arkian pada sebuah perusahaan, masing-masing jabatan sudah punya uraian tanggung jawab yang biasa disebut sebagai job description atau tugas pokok dan fungsi (tupoksi) atau istilah lain sebangsa itu yang diuraikan secara detil dan tertulis.

Akan sangat aneh jika ada seorang karyawan yang mengelak terhadap tupoksi yang memang betul-betul menjadi tanggung jawabnya. Orang semacam ini suka menggunakan jurus tai-chi master, selalu mengelak dan berkata: ini bukan pekerjaan saya, tapi pekerjaan kalian. read more