Dewi Bulan

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #2

Waktu itu listrik belum juga masuk ke kampung saya. Menjelang maghrib anak-anak sudah harus masuk rumah, takut dicaplok oleh Batara Kala yang sedang mengitari bumi mencari santapan makan malam berupa anak manusia. Saya patuh betul dengan dengan larangan ini – juga teman-teman sepermainan, tentu saja – tak akan berani berada di luar rumah, setidaknya hingga waktu shalat isya.

Dan ketika bulan purnama datang, itulah kegembiraan kami. Segenap warga desa akan keluar rumah untuk menikmati cahaya bulan. Demikian juga dengan ibu. Ia akan menggelar tikar mendong hasil kreasi anyaman tangannya di depan rumah.

“Kali ini engkau tak usah bermain dengan teman-temanmu. Ibu ingin mendongeng,” ujar ibu dengan ancaman manisnya.

“Ibu akan mendongeng tentang apa?” tanya saya.

“Lihatlah bulan bundar di atas sana. Cantik sekali bukan? Amati lebih lama. Apa yang engkau lihat di wajah bulan itu?” ibu balik bertanya. read more

Dayang Sumbi dan seribu candi

0Jejaka yang ditemui di pinggir telaga kemarin datang kepadanya dan mengatakan kalau ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dayang Sumbi memainkan ujung kainnya tak segera menyambar panah asmara yang telah dilepaskan jejaka di depannya itu.

“Namaku pun kau tidak tahu, kenapa kau begitu sembrono menyatakan cinta kepadaku?”

“Duhai wanita cantik,¬†sejak pertemuan kemarin aku tak bisa memejamkan mata barang sejenak. Tak lepas fikiranku membayangkan wajahmu.”

“Kalau kau tahu nama wanita yang kau sukai, lamunanmu akan semakin sempurna dengan selalu menyebut namanya.” read more

Ike Mese: perang akibat gagalnya diplomasi

Kapal-kapal kami baru saja meninggalkan Pelabuhan Tuban untuk menuju ke negara kami nun jauh di sana, Kekaisaran Mongol. O iya, perkenalkan nama saya Meng Khi, asisten pribadi Jenderal Ike Mese salah satu dari tiga pemimpin ekspedisi Mongol ke Tanah Jawa.

Saya sendiri pernah datang ke Tanah Jawa, sekitar 3 tahun yang lalu. Saya mendapatkan titah khusus dari Kaisar Kubilai Рia terkenal dengan sebutan Kubilai Khan, untuk datang ke Tanah Jawa menyampaikan pesan Kubilai Khan untuk raja Jawa. Kejayaan Kerajaan Singasari yang dipimpin oleh Kertanegara terdengar sampai ke telinga Kubilai Khan, sehingga ia ingin menaklukan Singasari ke bawah duli Khan Agung kami tersebut.

Tapi apa daya, pesan yang saya sampaikan mendapatkan penolakan dari Kertanegara. Lihatlah wajah saya. Hidung saya tidak utuh, telinga kiri buntung. Semua itu ulah dari Kertanegara, ketika saya sampaikan pesan Kubilai Khan supaya tunduk dan takluk kepada Kekaisaran Mongol dengan cara memberikan upeti rutin saban tahunnya. Ia marah dan mengiris hidung dan telinga saya. read more