Randédit #2

Bel tanda jam kantor usai berbunyi sepuluh menit yang lalu. Mas Suryat belum beranjak dari kursi dan masih asyik di depan laptopnya. Satu-persatu stafnya pamitan pulang. Tapi sepintas ia melihat ada seorang stafnya yang bolak-balik berjalan di depan ruangannya.

Dan tiba-tiba stafnya itu mengetuk pintu dan mohon izin untuk menghadap. Mas Suryat bisa membaca mimik muka stafnya, tanda seorang yang tengah galau tingkat dewa.

“Sudah, tu de poin saja. Kamu lagi punya kesulitan apa?”

“Saya besok mesti bayar kuliah anak, pak. Sudah ke mana-mana cari pinjaman. Saya memberanikan diri menghadap bapak untuk pinjam uang.”

“Berapa yang dibutuhkan?” lanjutkan baca

Proyek mangkrak 2017

Sebetulnya tidak ada istilah sibuk, tetapi karena saya sering salah dalam menentukan skala prioritas sehingga banyak pekerjaan menjadi kategori urgent. Tak heran ada beberapa proyek yang sudah saya rencanakan selesai di tahun 2017 ini menjadi mangkrak, tak terurus.

Proyek Menerbitkan 3 (tiga) Buku

Tahun 2017 ini kegiatan saya menulis di The Padeblogan menurun drastis. Kebiasaan menulis 300 kata per hari sementara ditenggelamkan oleh urusan pekerjaan yang lain. Bahkan draft ketiga buku yang akan saya terbitkan di tahun 2017 sudah tersimpan rapi di sebuah folder, tinggal edit sedikit di sana-sini. Tetapi ternyata hanya satu buku yang bisa saya terbitkan:  Pria Pendongeng dan Hikayat 27 Malam (Halaman Moeka Publishing Maret 2017).

Apakah proyek menerbitkan dua  buku berikutnya akan tetap mangkrak atau akan saya lanjutkan di tahun 2018? Penginnya sih, dalam semester pertama kedua buku tersebut sudah terbit. lanjutkan baca

Sandal jepit

“Maju, silakan di sini. Enggak apa-apa pakai sandal jepit,” pinta Jokowi.

Dikutip dari sini

Zaman SD saya dulu jamak anak-anak sekolah masih banyak yang nyeker, selain memang tak punya sepatu kebiasaan nyeker lebih praktis untuk bermain saat jam istirahat. Tetapi tidak sedikit dari teman-teman saya yang bersepatu. Kalau saya sih, ikutan nyeker. Nanti ketika saya klas 5 dan 6 mulai rutin bersepatu.

Seingat saya, jarang – bahkan tidak ada, memakai sandal jepit pada saat sekolah. Lebih baik nyeker. Cerita tentang sandal jepit, di rumah sandal jepit dipakai bersama. Saking awetnya kadang di bagian tumit sampai berlubang. Kalau tali sandal putus (biasanya bagian ujung tali yang dijepit jari) akan ‘diganjal’ menggunakan peniti. lanjutkan baca