Belajar kesabaran

Sabar itu mestinya tiada batas, sehingga terdengar wagu jika seseorang mengatakan kalau kesabarannya sudah habis. Berarti ia tidak sabar lagi. Seperti kata merdeka, mestinya tidak perlu didefinisikan arti merdeka itu apa, sebab jika didefinisikan maka ia tidak merdeka lagi, ia menjadi terkekang.

Secara merdeka kita boleh belajar kesabaran dari alam sekitar. Misalnya kepada buah-buahan. Aneka buah sampai menjadi masak/matang ada tata-waktunya: hanya manusia yang tidak sabar yang ingin segera menikmatinya sehingga ia mengeramnya dengan menaburi karbit agar cepat masak. read more

Doa pembebasan hutang

Dalam pengajian malam Jumat Wage semalam, Ustadz Saefudin membahas tentang doa untuk membebaskan diri dari hutang. Doa ini biasa dibaca pada pagi dan petang sebanyak tiga kali.

Kisahnya:

Ketika Kanjeng Nabi masuk masjid di luar waktu-waktu shalat fardhu, beliau dihampiri seorang sahabat Anshar bernama Abu Umamah.

Sahabat ini mengeluh kepada Kanjeng Nabi: “Kesusahan dan hutang-hutangku membelit diriku, wahai Rasulullah”.

Kanjeng Nabi pun bersabda: “Maukah aku ajarkan sebuah doa kepadamu, yang apabila engkau mengucapkannya, Allah menyingkirkan kesusahanmu dan membayar hutang-hutangmu.” read more

Ketawang Ibu Pertiwi

Radio di kamar bapak terdengar gending Ketawang Ibu Pertiwi. Tanda kalau siaran radio tersebut hampir usai. Sungguh syahdu dan khidmat terdengar di telinga dan terserap di hati. Ibu Pertiwi berarti bumi kelahiran, tanah tumpah darah dan rasa kebangsaan.

Ibu Pertiwi paring boga lan sandhang kang murakabi, paring rejeki manungsa kang bekti ibu pertiwi. Ibu Pertiwi sih sutresna mring sesami, ibu pertiwi kang adil luhuring budi/ ayo sungkem mring ibu pertiwi

Terjemahan bebasnya:
Ibu Pertiwi memberi kecukupan sandang pangan, memberikan rejeki pada insan berbakti (kepada) ibu pertiwi. Kasih sayang kepada sesama, ibu pertiwi yang adil luhur budi(nya), mari berbakti kepada ibu pertiwi. read more