Rasa Bahasa

Dalam menulis saya tidak terlalu ambil peduli dengan gaya bahasa saya mengikuti mahzab yang mana. Ini masalah kebiasaan saja, kok. Kebiasaan menulis akan membentuk gaya bahasa. Saya sependapat jika masalah gaya bahasa ini sesuatu yang penting dalam bidang kepenulisan. Gaya bahasa bukan melulu cara bertutur tetapi juga berperan dalam menyapa pembaca.

Setiap penulis mempunyai gaya bahasa sendiri. Dalam merangkai kalimat ia bebas menyelipkan emosi-emosi yang akan menjadi ciri khasnya, bisa saja lucu, narsis, mengharukan, konyol, menyebalkan atau berbagai macam emosi yang lain. Semua tidak ada ada pakemnya. read more

Candranama

Dalam tradisi Jawa ada bermacam panggilan untuk seorang anak, baik anak laki-laki atau anak perempuan. Pada anak laki-laki ada yang dipanggil dengan anggèr/nggèr (huruf e dibaca seperti pada bebek), panggilan yang menunjukkan ekspresi  kasih sayang.  Lalu ada nang, ini penggalan kata lanang yang berarti laki-laki. Panggilan yang paling unik adalah le, penggalan kata thole yang tak lain menunjuk kepada kemaluan laki-laki, konthol(e). Akhiran (e) berarti “nya”, seperti misal dalam kata mripatee yang berarti matanya. Ada juga yang memanggil anak lelaki dengan cung, penggalan kata kuncung – dari model rambut si anak.

Sedangkan pada anak perempuan di antaranya ada panggilan nok atau ndhuk (asal kata gendhuk), sering dipakai oleh masyarakat Solo dan Jogja.  Seperti halnya panggilan thole, panggilan seorang anak perempuan ada yang dikenal dengan bawuk (kemaluan perempuan) atau sering disingkat dengan wuk saja. read more

Jakarta 1989

Salah satu gerbong KA Senja Utama yang berjalan ke arah Jakarta itu berisi puluhan mahasiswa UGM yang akan mengikuti Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM) yang bertempat di Kampus IKIP Jakarta. Saya menjadi salah satu mahasiswa yang berada di gerbong tersebut. Saya – bersama Salim, Dedy, Wahid, Latifah dan Nunik, akan mengikuti LKIM Bidang Humaniora. Karya ilmiah kami tentang kebijakan Pak Koesnadi – Rektor UGM waktu itu, yang sukses menata Kampus UGM menjadi kampus yang asri dan nyaman.

Waktu itu tahun 1989, untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta. KA Senja Utama berhenti di Stasiun Gambir dan kami dijemput oleh panitia dibawa ke asrama (saya tidak ingat persisnya di mana, sepertinya tidak jauh dari Kampus IKIP Jakarta). Seminggu kami berada di Jakarta. read more