Berpisah dengan Kyai Garuda Seta

Setelah lima tahun bersamanya, akhirnya Mas Suryat mesti berpisah dengan Kyai Garuda Seta (KGS) yang setia menemani aktivitasnya sehari-hari. Ia sayang betul pada KGS.

Nama KGS ia sematkan kepada Mitsubishi Outlander Sport (OS) Type PX yang berwarna putih itu, bahkan sejak ia naksir melihatnya di salah satu ruang pamer Paragon Solo pada suatu sore. Kelak, KGS menjadi mobil matic pertama yang ia kendarai.

Apa mobil matic bisa untuk ngebut dan ngepotĀ di jalanan? Kira-kira seperti itu pertanyaan di hatinya. Ternyata, enak betul mengendarai mobil matic. lanjutkan baca

Soto-soto

Setidaknya ada 4 (empat) warung soto langganan, saat kami berada di sekitar SOC-JOG.

Soto Ledokan

Warung soto ini berada di sekitar Tugu Kartasura. Dinamakan ledokan mungkin karena posisinya ada di bawah level jalan. Jadi untuk menuju meja warung, kita mesti turun tangga. Gus Dur pernah mampir di warung soto ini, sebab ada fotonya yang dipasang di dinding warung.

Kami biasanya mampir warung Soto Ledokan untuk menikmati makan malam setelah perjalanan dari KRW dan sudah sampai di KTS. Atau memang sengaja sarapan di sini sebelum keliling SOC dan sekitarnya. lanjutkan baca

Pas tidak Legi

Kika pernah bercerita kalau ia pergi ke Pasar Kotagede. Ceritanya seru, karena ia seperti melihat pasar zaman dulu yang sesungguhnya: tukang obat menjajakan dagangannya dengan cara atraktif di sebelah tukang ramal nasib orang, para pedagang burung hias dikerumuni pecinta hewan berkicau itu di sisi barat pasar, serta pedagang barang yang unik lainnya.

Saya pun terprovokasi ingin mengunjungi pasar tradisional tertua yang dibangun di abad 16 tersebut.

Pas hari Minggu kunjungan ke Jogja, kami berempat nge-grab ke Pasar Kotagede. Sekira jam 9-an pasar kok sepi. Usut punya usut dengan bertanya kepada para pedagang di sana, pasar ini ramai kalau pas pasaran Legi. Kami datang ke sana hari Minggu Paing. Benar saja, ketika melihat tulisan di pintu masuk: Pasar Legi Kotagede. lanjutkan baca