Candramawa

Dalam tradisi Jawa ada bermacam panggilan untuk seorang anak, baik anak laki-laki atau anak perempuan. Pada anak laki-laki ada yang dipanggil dengan anggèr/nggèr (huruf e dibaca seperti pada bebek), panggilan yang menunjukkan ekspresi  kasih sayang.  Lalu ada nang, ini penggalan kata lanang yang berarti laki-laki. Panggilan yang paling unik adalah le, penggalan kata thole yang tak lain menunjuk kepada kemaluan laki-laki, konthol(e). Akhiran (e) berarti “nya”, seperti misal dalam kata mripatee yang berarti matanya. Ada juga yang memanggil anak lelaki dengan cung, penggalan kata kuncung – dari model rambut si anak.

Sedangkan pada anak perempuan di antaranya ada panggilan nok atau ndhuk (asal kata gendhuk), sering dipakai oleh masyarakat Solo dan Jogja.  Seperti halnya panggilan thole, panggilan seorang anak perempuan ada yang dikenal dengan bawuk (kemaluan perempuan) atau sering disingkat dengan wuk saja. read more

Jakarta 1989

Salah satu gerbong KA Senja Utama yang berjalan ke arah Jakarta itu berisi puluhan mahasiswa UGM yang akan mengikuti Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM) yang bertempat di Kampus IKIP Jakarta. Saya menjadi salah satu mahasiswa yang berada di gerbong tersebut. Saya – bersama Salim, Dedy, Wahid, Latifah dan Nunik, akan mengikuti LKIM Bidang Humaniora. Karya ilmiah kami tentang kebijakan Pak Koesnadi – Rektor UGM waktu itu, yang sukses menata Kampus UGM menjadi kampus yang asri dan nyaman.

Waktu itu tahun 1989, untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta. KA Senja Utama berhenti di Stasiun Gambir dan kami dijemput oleh panitia dibawa ke asrama (saya tidak ingat persisnya di mana, sepertinya tidak jauh dari Kampus IKIP Jakarta). Seminggu kami berada di Jakarta. read more

Cerita tentang mudik

Saya merantau untuk bekerja di Jakarta hampir tiga dasa warsa yang lalu. Setiap libur lebaran, saya selalu mudik ke Kota Kelahiran yang berjarak sekitar 600 km.  Ini kisah mudik yang tercatat di ingatan saya.

Pertama kali mudik saya masih bujangan. Naik bus dari Terminal Pulogadung. Saya mendapatkan tiket dari seorang calo, dengan harga selangit. Tidak apa-apa, demi ketemu keluarga di kampung halaman dengan membawa sedikit tabungan dari sisa-sisa gaji di awal bekerja.

Mudik kedua, saya sudah beristri dan tinggal di Karawang, 50 km arah timur Jakarta. Karena istri tengah hamil anak pertama, saya memilih mudik naik KA dari Jatinegara. Kondisi KA jaman dulu tentu berbeda dengan KA sekarang yang super nyaman. KA Senja Utama yang saya naiki penuh sesak, hingga nanti sampai Stasiun Solo Balapan. Mudik tahun-tahun berikutnya, saya membawa keluarga kecil saya naik “mobil profit”. read more