Pawang bau badan

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #31

Barangkali sudah suratan nasib Mas Suryat, ketika ia berkali-kali berurusan dengan orang yang mempunyai bau badan semerbak “mewangi” yang sering mengganggu kenyamanan orang lain di sekitarnya.

Disebut berkali-kali artinya lebih dari sekali. Mas Suryat bukan menghindarinya, tetapi justru memberikan solusi bagaimana mengurangi – dan sokur-sokur bisa menghilangkan. Apa yang menjadi trik dan rahasianya?

[1]

Pada suatu hari, Mas Suryat dipanggil oleh Pak Bos. Ia mengeluhkan BB sopir yang saban hari melayaninya. Pak Bos ini orangnya berperasaan halus hingga sungkan untuk menegur sopirnya sendiri.

Mas Suryat mulai menyelidik. Ternyata, saban pagi setelah sampai di kantor, sopirnya Pak Bos ini rajin berolah raga lari. Tentu saja ia berkeringat. Namun sayangnya, cara hidup sehat semacam itu tak diimbangi dengan hidup bersih. Habis berolah raga, ia langsung mengenakan baju seragam sopirnya tanpa mandi dulu. Ia siap jika sewaktu-waktu ada panggilan untuk mengantar bos-nya. read more

Mata air awet muda

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #6

Tiba-tiba saja saya teringat kepada sahabat lama ketika kami berdinas di salah satu perusahaan HPH di wilayah Kalimantan Tengah pada kurun waktu 1993 yang lalu. Ia menjadi sahabat sejati di perantauan tengah hutan, ketika senang ataupun sedih. Ia yang lebih senior bekerja di bidang HPH sering memberikan penghiburan kepada saya bagaimana mengobati rasa suntuk ketika ada keinginan keluar dari wilayah hutan.

Terakhir kali saya bertemu dengannya sekitar tahun 1996 di rumahnya yang terletak di sedikit di bawah puncak Gunung Lawu. Dengan berbekal ingatan letak tempat tinggalnya dan dibantu oleh Peta Gugel, H+3 kemarin saya mengunjunginya kembali.

Ketika saya sampai di sekitar desa sahabat saya itu, saya keder. Pangling dengan situasi wilayah tersebut. Apalagi saat itu wilayah puncak Lawu hujan turun sangat deras. Pelan tapi pasti saya pacu Kyai Garuda Seta menelusuri jalan cor-beton yang tidak seberapa lebar itu, untuk mencari rumah yang letaknya di pojokan simpang tiga Desa Balong Jenawi Karanganyar. read more

Batal berhaji (lagi)

Stasiun Cikampek cukup lengang petang kemarin. Para penumpang KA Singasari sudah diperbolehkan menunggu di peron. Saya salah satu penumpang yang akan turun di Stasiun Purwosari Solo. Di mushola stasiun saya bertemu dengan mas Pram, kolega di sebuah organisasi, yang akan menjadi teman perjalanan saya – setidaknya sampai di Purwokerto nanti.

“Mau ke Solo mas?” sapanya, terlebih dulu.

“Iya nih, besok peringatan setahun perginya bapak. Sampeyan sendiri mau ke mana?”

“Ke rumah mertua, di Purwokerto. Mau menenangkan beliau yang tahun ini batal lagi pergi hajinya. Jadwal keberangkatan kan seharusnya tahun lalu. Lha tahun ini Pemerintah tidak memberangkatkan haji Indonesia.”

Tahun lalu Saudi menyelenggarakan haji secara terbatas, tidak menerima jamaah dari luar negeri. Sedangkan tahun ini, Pemerintah RI memutuskan tidak mengirim jamaah haji dengan alasan utama keamanan kesehatan karena Pandemi Kopid belum selesai. Saya bisa ikut merasakan bagaimana sedihnya para calon jamaah haji Indonesia dengan dua kali penundaan keberangkatan.

“Dengar-dengar sampeyan sendiri juga akan berangkat mas?”

Nggih mas, rencana kami berangkat berempat. Saya, nyonya dan kedua mertua. Bapak ibu saya sendiri sudah almarhum. Saya dan nyonya sudah pasrah dengan kondisi ini, tapi saya mesti membesarkan hati mertua. Keinginan beliau ke Tanah Suci sepertinya sudah menjadi keinginan yang tidak bisa ditawar di sisa usianya sekarang ini.”

Seorang perempuan yang telah menyelesaikan shalatnya menghampiri mas Pram, dan mas Pram memperkenalkan istrinya itu ke saya. Dan kami pun mencari tempat duduk yang nyaman di ruang tunggu.

“Mas Pram di gerbong mana?”

“Ekse 4 mas, kalau sampeyan?”

“Ekse 1. O, iya menyambung omongan tentang haji tadi mas. Saya di bulan Puasa kemarin kok berharap ada keajaiban untuk haji Indonesia ya?”

Pripun mas?”

“Secara mengejutkan Pemerintah Saudi¬† memutuskan pelaksanaan haji tahun ini hanya dikhususkan untuk jamaah yang berasal dari Indonesia. Selain memudahkan pengawasan selama masih pandemi, juga menyelesaikan masa tunggu hingga sepuluh tahun. Kalau tidak salah jumlah jamaah setiap musim haji sekitar 2.3 juta.”

“Pas itu, 2.3 juta dibagi 230rb berarti ada 10 tahun jamaah Indonesia. Tapi mokal ya mas?”

Kami tertawa bersamaan  dengan pemberitahuan kalau KA Singasari masuk Stasiun Cikampek. Kami berpisah untuk