Kaki kaki kaku

Greyson (seekor kucing paling senior, saat ini berumur 7 tahun)

Kami memanggilnya dengan Abah. Di rumah, ia termasuk kucing paling senior dari enam kucing yang kami pelihara. Ia suka duduk di tangga, leyeh-leyeh sambil memandang yuniornya yang berjalan/berlari ke sana kemari.

Abah sendiri punya riwayat sakit radang sendi di salah satu kakinya. Kalau radangnya sedang kumat, ia berjalan terpincang-pincang kadang menyebabkan mager sehingga berpengaruh susah makan (sebab ia mesti berjalan ke arah mangkok makanan ditempatkan). Terpaksa ia dimasukkan ke kandang.

Kemarin ia dibawa ke dokter, dan hasil rontgen terlihat ada masalah di sendi kakinya. Setelah diakupuntur dan diberi obat anti radang, ia sudah mulai berjalan secara normal.

Jika umur Abah dikonversi ke umur manusia setara dengan 48 tahun. Hhmm, masih belum terlalu tua, sih. read more

Rasa Bahasa

Dalam menulis saya tidak terlalu ambil peduli dengan gaya bahasa saya mengikuti mahzab yang mana. Ini masalah kebiasaan saja, kok. Kebiasaan menulis akan membentuk gaya bahasa. Saya sependapat jika masalah gaya bahasa ini sesuatu yang penting dalam bidang kepenulisan. Gaya bahasa bukan melulu cara bertutur tetapi juga berperan dalam menyapa pembaca.

Setiap penulis mempunyai gaya bahasa sendiri. Dalam merangkai kalimat ia bebas menyelipkan emosi-emosi yang akan menjadi ciri khasnya, bisa saja lucu, narsis, mengharukan, konyol, menyebalkan atau berbagai macam emosi yang lain. Semua tidak ada ada pakemnya. read more

Candranama

Dalam tradisi Jawa ada bermacam panggilan untuk seorang anak, baik anak laki-laki atau anak perempuan. Pada anak laki-laki ada yang dipanggil dengan anggèr/nggèr (huruf e dibaca seperti pada bebek), panggilan yang menunjukkan ekspresi  kasih sayang.  Lalu ada nang, ini penggalan kata lanang yang berarti laki-laki. Panggilan yang paling unik adalah le, penggalan kata thole yang tak lain menunjuk kepada kemaluan laki-laki, konthol(e). Akhiran (e) berarti “nya”, seperti misal dalam kata mripatee yang berarti matanya. Ada juga yang memanggil anak lelaki dengan cung, penggalan kata kuncung – dari model rambut si anak.

Sedangkan pada anak perempuan di antaranya ada panggilan nok atau ndhuk (asal kata gendhuk), sering dipakai oleh masyarakat Solo dan Jogja.  Seperti halnya panggilan thole, panggilan seorang anak perempuan ada yang dikenal dengan bawuk (kemaluan perempuan) atau sering disingkat dengan wuk saja. read more