Pak Parmin mendongeng matematika

Bagi yang tidak menyukai pelajaran Matematika, istilah matematika diplesetkan dengan kepanjangan: makin tekun makin tidak karuan. Ya, tidak semua guru matematika bisa mengajarkan kepada muridnya bahwa matematika itu menyenangkan.

Ketika saya kelas 2 SMA, guru matematika saya bernama Pak Suparmin yang gemar bercerita kisah lucu sebagai selingan saat mengajar hitungan yang cukup rumit. Tak jarang juga ia mendongeng, yang ceritanya tak jauh-jauh dengan urusan matematika.

Pada suatu hari, Pak Parmin memberikan kami sebuah PR menghitung jumlah butir beras yang beratnya 1 kg. Esok harinya, ternyata jumlah hitungan kami berbeda-beda, berkisar 35.000 – 45.000 butir/kg.

Jumlah butiran besar tadi oleh Pak Parmin ditulis di papan tulis. Kemudian ia mendongeng asal-usul permainan catur. lanjutkan baca

NDL

Jangan diklik

Saya ketawa ngekek ketika mendengar seorang kawan melemparkan istilah ndlodok,  ndlèdèk, ndlèwèr, ndlidir, ndlosor, ndlesep atau pun ndlongop. Sesekali kawan saya itu misuh dengan kata-kata khas Solo dan sekitarnya seperti ndladhuk, ndlogok, atau ndlègèk.

Lama sekali saya tidak mendengar lagi  istilah ndlodok dalam percakapan di pergaulan saya. Orang bergaya cuek bisa disebut sebagai orang yang ndlodok, terutama kenakalannya dalam mengucapkan sesuatu yang nyleneh tanpa beban.  Anda boleh bereaksi marah, jengkel, gemas atau bahkan sebal dengan gaya ndlodokan mereka, tetapi sebenarnya mereka bermaksud baik, kok. Itulah ciri khas ndlodok. lanjutkan baca

Amamangun karyenak tyasing sêsama

Malam beranjak tua. Mata saya tak mau juga terpejam barang sesaat. Kancilen, kata orang Jawa. Malam itu saya menginap di rumah seorang teman di lereng Merapi, setelah siang dan sore harinya ada kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh kampus tempat saya kuliah, sekira 27 tahun lalu.

Sayup-sayup terdengar suara orang mendendangkan sebuah tembang Macapat. Berasa tintrim. Saya beranjak dari amben keluar kamar dan mencari sumber suara.

Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panêmbahan Senapati, kêpati amarsudi, sudane hawa lan nêpsu, pinêsu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karyenak tyasing sêsama.

O, rupanya mBah Rekso yang tengah menembang Sinom yang saya kenali dari kalimat amamangun karyenak tyasing sêsama. Saya pun mendekat ke arahnya. Eh, mbah kakung teman saya itu malah menghentikan suaranya dan mempersilakan saya duduk di sebelahnya. lanjutkan baca