Sinau pada Kanjeng Sunan Kalijaga

Kyai Garuda Seta yang saya kendarai digedor-gedor orang berjubah putih supaya saya membelokkan mobil ke arah kiri. Massa telah memblokir jalanan. Saya baru menyadari kalau saya salah ambil jalur jalan, mestinya saya menghindari wilayah tempat konsentrasi massa berunjuk rasa. Berita tentang rencana massa berjubah putih yang akan melantik gubernur tandingan itu sebetulnya sudah saya baca, mestinya saya ndak usah melewati wilayah tersebut untuk menghindari macet.

Sing waras ngalah wae, Mas!” ujar Pak Pangat yang duduk di samping saya.

Maka, saya pun belok kiri menjauhi kerumunan massa. Saya dan Pak Pangat tidak begitu paham jalan tikus ibukota, segera mengandalkan Google Map. lanjutkan baca

Di mana Menak Jinggo?

Tetirah singkat ke Banyuwangi tempo hari, betul-betul saya manfaatkan untuk mengendus jejak Menak Jinggo (ada yang menyebutnya Minak Jinggo) yang pernah bertahta di Kerajaan Blambangan itu. Kisah Menak Jinggo yang saya pahami sejak kecil adalah berdasarkan cerita-cerita versi ketoprak, di mana Menak Jinggo digambarkan sebagai lelaki jahat bersuara bindeng punya senjata andalan Gada Wesi Kuning. Ia juga mempunyai abdi kinasih yang bernama Dayun. Meskipun buruk rupa, Menak Jinggo mempunyai dua istri yang cantik, namanya Wahito dan Puyengan.

Menak Jinggo merupakan musuh Majapahit yang saat itu diperintah oleh Ratu Kencanawungu, seorang raja perempuan. Karena kesaktian Menak Jinggo, Majapahit kewalahan melawannya. Akhirnya, Ratu Kencanawungu membikin sayembara siapa yang bisa mengalahkan Menak Jinggo, akan dijadikan suaminya. Adalah Damarwulan yang dapat menaklukkan Menak Jinggo dengan cara mencuri Gada Wesi Kuning yang dibantu oleh Wahito dan Puyengan. Saya pernah mendongengkan kisah ini di Damarwulan Bejo. lanjutkan baca

MEA 2015

Tanggal 1 Mei 2014 Mas Suryat sengaja bangun siang. Maklum, ini untuk pertama kalinya pemerintah menetapkan Hari Buruh Internasional sebagai libur nasional. Libur berarti tak masuk kantor, bisa berleha-leha di tengah minggu.

Mas Suryat menyeduh kopi hitam – ia belum bisa sepenuhnya melepas kopi dari hidupnya, membawanya ke teras sebagai teman membaca buku Takdir yang belum diselesaikannya. Buku itu mengenai riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) karya Peter Carey.  lanjutkan baca