Naik bis bumel Solo-Yogya

Pada saat libur panjang Maulud Nabi kemarin saya punya 2 acara, salah satunya menengok ibu di Karanganyar dan acara selanjutnya di Yogya. Untuk menghindari kemacetan di jalan raya, saya menggunakan KA sebagai sarana transportasi.

Saya njujug ke Karanganyar dulu.

Karena KA Singasari (langsung dari Karawang ke Solo) belum beroperasi selama Pandemi Covid-19 ini, maka saya menyiasati dengan pindah KA. Pertama, saya naik KA Jayabaya turun di Cirebon, kemudian saya sambung naik KA Gajayana turun di Stasiun Solo Balapan. Sambil menunggu kedatangan KA Gajayana, saya masih sempat makan malam di Stasiun Cirebon.

***

Rencana awal saya, ke Yogya naik KA Prameks. Karena ndak dapat tiket, saya ke Terminal Tirtonadi Solo, naik bis saja. Baru saja saya sampai di pintu masuk terminal, sudah ditawari masuk bis bumel (kasta terendah di kelompok bis non-AC) “Suharno” jurusan Yogya yang sudah ngetem, siap berangkat. read more

Rapid

Karena alasan supaya anak-anaknya bisa kumpul, peringatan 100 hari meninggalnya bapak dilaksanakan malam minggu. Tadi malam. Saya berangkat naik bus dari Karawang Jumat malam, sampai di Terminal Tirtonadi esok hari menjelang subuh.

Saya sudah punya tiket rencana kepulangan ke Karawang pada Minggu sore. Nantinya berangkat dari Terminal Tirtonadi.

Kira-kira 3 mingguan ini, sebagai admin WA Group saya sudah me-remove 3 teman dengan alasan ketiganya meninggal dunia karena sakit yang kurang dari seminggu dirawat di RS. Teman-1 merupakan kolega bisnis, teman-2, teman sekolah saat di SD-SMP-SMA dan teman-3 merupakan rekan kerja satu kantor,  yang dimakamkan kemarin siang – saya sudah berada di Karanganyar.

Ketika saya memonitor prosesi pemakaman teman saya tersebut, masuk pesan via WA dari sahabat saya yang menginformasikan kalau istrinya sedang kritis di RS. Ia meminta doa supaya dimudahkan kepergian menghadap-Nya. Memang pada bulan kemarin ia memberitahu saya kalau dokter sudah memberikan ancer-ancer berapa lama lagi istrinya bertahan hidup akibat kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. read more

Tua itu pasti, tapi jangan pikun

Saat melewati usia setengah abad dua setengah tahun lalu hampir tiada berasa. Perputaran roda-roda mesin waktu seakan semakin cepat saja. Tau-tau jadi tua.

Jika melihat wajah di cermin seakan tidak berubah, perasaan masih mirip seperti di masa kecil dulu. Cermin pasti jujur, menampakkan gurat-gurat kasepuhan di wajah saya, hanya perasaan ini saja yang suka membohongi diri: masih muda.

Arkian, naik tangga sepuluh langkah saja nafas sudah saling memburu, pun melangkah mulai diseret bahkan ada beda tinggi pada lantai kaki saya terantuk. Itu tanda-tanda tua. Pandangan tak setajam mata elang lagi. Ketinggalan kacamata baca tak bisa lagi mengeja kata apalagi kalimat. Itu tanda-tanda tua. read more