Jakarta 1989

Salah satu gerbong KA Senja Utama yang berjalan ke arah Jakarta itu berisi puluhan mahasiswa UGM yang akan mengikuti Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM) yang bertempat di Kampus IKIP Jakarta. Saya menjadi salah satu mahasiswa yang berada di gerbong tersebut. Saya – bersama Salim, Dedy, Wahid, Latifah dan Nunik, akan mengikuti LKIM Bidang Humaniora. Karya ilmiah kami tentang kebijakan Pak Koesnadi – Rektor UGM waktu itu, yang sukses menata Kampus UGM menjadi kampus yang asri dan nyaman.

Waktu itu tahun 1989, untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta. KA Senja Utama berhenti di Stasiun Gambir dan kami dijemput oleh panitia dibawa ke asrama (saya tidak ingat persisnya di mana, sepertinya tidak jauh dari Kampus IKIP Jakarta). Seminggu kami berada di Jakarta. read more

Cerita tentang mudik

Saya merantau untuk bekerja di Jakarta hampir tiga dasa warsa yang lalu. Setiap libur lebaran, saya selalu mudik ke Kota Kelahiran yang berjarak sekitar 600 km.  Ini kisah mudik yang tercatat di ingatan saya.

Pertama kali mudik saya masih bujangan. Naik bus dari Terminal Pulogadung. Saya mendapatkan tiket dari seorang calo, dengan harga selangit. Tidak apa-apa, demi ketemu keluarga di kampung halaman dengan membawa sedikit tabungan dari sisa-sisa gaji di awal bekerja.

Mudik kedua, saya sudah beristri dan tinggal di Karawang, 50 km arah timur Jakarta. Karena istri tengah hamil anak pertama, saya memilih mudik naik KA dari Jatinegara. Kondisi KA jaman dulu tentu berbeda dengan KA sekarang yang super nyaman. KA Senja Utama yang saya naiki penuh sesak, hingga nanti sampai Stasiun Solo Balapan. Mudik tahun-tahun berikutnya, saya membawa keluarga kecil saya naik “mobil profit”. read more

Naik bis bumel Solo-Yogya

Pada saat libur panjang Maulud Nabi kemarin saya punya 2 acara, salah satunya menengok ibu di Karanganyar dan acara selanjutnya di Yogya. Untuk menghindari kemacetan di jalan raya, saya menggunakan KA sebagai sarana transportasi.

Saya njujug ke Karanganyar dulu.

Karena KA Singasari (langsung dari Karawang ke Solo) belum beroperasi selama Pandemi Covid-19 ini, maka saya menyiasati dengan pindah KA. Pertama, saya naik KA Jayabaya turun di Cirebon, kemudian saya sambung naik KA Gajayana turun di Stasiun Solo Balapan. Sambil menunggu kedatangan KA Gajayana, saya masih sempat makan malam di Stasiun Cirebon.

***

Rencana awal saya, ke Yogya naik KA Prameks. Karena ndak dapat tiket, saya ke Terminal Tirtonadi Solo, naik bis saja. Baru saja saya sampai di pintu masuk terminal, sudah ditawari masuk bis bumel (kasta terendah di kelompok bis non-AC) “Suharno” jurusan Yogya yang sudah ngetem, siap berangkat. read more