Diculik jin#2

Cerita ini sambungan dari: Diculik jin#1

Setelah sarapan, saya menikmati sejuknya angin pagi Laut Jawa. Beberapa jam lagi, Kapal Kelimutu yang saya tumpangi dari Banjarmasin akan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Angin laut memainkan rambut saya yang sudahs setahun tidak saya potong.

Ah, akhirnya saya meninggalkan Kalimantan juga. Pengambilan keputusan saya untuk berhenti bekerja terbilang sangat cepat, karena beberapa teman mengambil cuti pulang ke Jawa dan saya ingin pulang bersama mereka. Pulang ramai-ramai pasti mengasyikkan dan kami memilih menggunakan moda transportasi laut.

Dari camp kami naik perahu menuju ke Kota Puruk Cahu. Dari sini kami naik bus ke Banjarmasin, dengan tujuan akhir di Pelabuhan Trisakti. Hampir setahun saya tidak ketemu orang tua, membuat perjalanan berasa sangat lambat. read more

40 kambing dan satunya anjing

Di suatu  peternakan nan asri, tinggal seorang lelaki tua bersama seekor anjing yang sangat setia kepadanya. Anjing tersebut sering berperilaku seperti manusia pada umumnya, misalnya ia bisa menyediakan kopi-susu bagi tuannya atau bahkan menemaninya ngobrol di siang hari kala ia sedang tidak terlalu sibuk bekerja.

Tugas utama anjing pintar itu sebetulnya menjaga 40 kambing milik Pak Tua tersebut. Berbekal peluit dan catatan berisi daftar nama kambing (ya, ke-40-nya mempunyai nama masing-masing), pagi-pagi sekali ia akan membuka kandang, meniupkan peluit dengan lantang, lalu ia mengabsen para kambing yang secara tertib keluar dari kandang. Nanti di sore hari, ia akan kembali mengabsen para kambing dan memastikan mereka semua masuk ke dalam kandang.

Di area peternakan tersebut, Pak Tua juga memelihara tiga ekor babi, seekor banteng, sepasang ayam dan kadang-kadang datang juga seekor kucing yang masuk rumahnya sekedar mencari sisa makanan.

***

Pada suatu hari, Pak Tua pergi ke kota dengan mengendarai mobil bututnya. Para kambing bersorak gembira, sebab mereka bisa bebas bermain sesuka hati. Permainan yang mereka pilih adalah bermain bola. Seperti halnya manusia, mereka membagi menjadi 2 tim, masing-masing sebelas kambing. Mereka yang tidak ikut bermain bola menjadi tim hore di sisi tepi lapangan. Permainan yang sangat seru. read more

Saya [hampir tidak] takut ular lagi

Setelah sering kali menyaksikan tayangan Snake in the City di kanal National Geographic Wild, saya [hampir tidak] takut ular lagi.

O iya?

Dulu, melihat gambarnya saja membuat bulu kuduk saya merinding. Bahkan, kaki saya akan ngregeli ketika di jalan mobil saya melindas bangkai ular (terpaksa melindasnya sebab tak mungkin ada celah untuk menghindar). Atau jika di televisi ada film tentang ular, buru-buru saya memindahkan salurannya.

Waktu kecil dulu, saya ingat teman-teman sepermainan suka memegang dan mempermainkan ular lare angon (Xenochrophis vittatus). Jenis ular ini sangat jinak, sering untuk mainan anak-anak gembala, makanya disebut sebagai ula lare angon (ular anak gembala). Meskipun ndak galak, saya tetap tidak berani memegang seperti teman-teman saya. read more