Jangan kepo, jangan banyak tanya dan jangan kemaruk

Semenjak berumah tangga dengan Nawangwulan, kehidupan Jaka Tarub berasa sempurna. Bidadari yang kehilangan selendang saat mandi di telaga tak jauh dari rumah Jaka Tarub itu kini menjadi istri Jaka Tarub dan mereka telah mempunyai putri yang cantik, Nawangsih.

Secara ekonomi, keluarga Jaka Tarub berkecukupan. Stok bulir padi di lumbung padinya luber, seperti tak pernah berkurang. Suatu kondisi yang belakangan disadari oleh Jaka Tarub. Dan ia ingin tahu apa kenapa lumbung padinya tetap penuh, sementara untuk makan sehari-harinya Nawangwulan menanak nasi. lanjutkan baca

Randédit #2

Bel tanda jam kantor usai berbunyi sepuluh menit yang lalu. Mas Suryat belum beranjak dari kursi dan masih asyik di depan laptopnya. Satu-persatu stafnya pamitan pulang. Tapi sepintas ia melihat ada seorang stafnya yang bolak-balik berjalan di depan ruangannya.

Dan tiba-tiba stafnya itu mengetuk pintu dan mohon izin untuk menghadap. Mas Suryat bisa membaca mimik muka stafnya, tanda seorang yang tengah galau tingkat dewa.

“Sudah, tu de poin saja. Kamu lagi punya kesulitan apa?”

“Saya besok mesti bayar kuliah anak, pak. Sudah ke mana-mana cari pinjaman. Saya memberanikan diri menghadap bapak untuk pinjam uang.”

“Berapa yang dibutuhkan?” lanjutkan baca

Randédit

Sehabis libur akhir tahun, kawan kita – Kamingsun – kantongnya kempes. Bahkan boleh dibilang kempes sekempes-kempesnya. Semua itu tidak diambil pusing oleh Kamingsun. Uang habis ya cari lagi. Sesederhana itu saja cara berfikirnya.

Kemarin Kamingsun dan keluarganya mengisi liburan di kampung halaman. Tak ada objek wisata yang mereka kunjungi. Mereka menyebut liburan silaturahmi, sebab kegiatan selama libur mereka mengunjungi sanak-kadang dan teman-teman sekolah dulu. Silaturahmi dapat memperpanjang umur dan memperluas cakupan rejeki, demikian keyakinan Kamingsun. lanjutkan baca