Jurus mengelak

Memang sudah menjadi kodratnya manusia: selalu mengelak, bahkan pada saat kepepet sekalipun. Justru pada saat kepepet seperti itu ide brilian untuk mengelak berhamburan dari otaknya. Mengelak berarti mempertahankan diri dari serangan lawan. Mengelak juga berarti ingin lari dari tanggung jawab. Ada yang bernasib baik, ada yang apes.

[1]

Arkian pada sebuah perusahaan, masing-masing jabatan sudah punya uraian tanggung jawab yang biasa disebut sebagai job description atau tugas pokok dan fungsi (tupoksi) atau istilah lain sebangsa itu yang diuraikan secara detil dan tertulis.

Akan sangat aneh jika ada seorang karyawan yang mengelak terhadap tupoksi yang memang betul-betul menjadi tanggung jawabnya. Orang semacam ini suka menggunakan jurus tai-chi master, selalu mengelak dan berkata: ini bukan pekerjaan saya, tapi pekerjaan kalian. read more

Lolongan pria (yang mulai) tua

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #5

Kulihat wajahku letih dan tua, tapi aku berusaha tertawa. Anggap hidup hanya sandiwara, yang kan berakhir segera – Lolong [Ebiet G. Ade]

Balai Desa sudah penuh sesak. Malam itu ada acara halal bihalal yang diselenggarakan oleh Pemuda Desa. Saat itu tahun 1981, saya masih kelas 1 SMA di mana panitia seksi sibuk kebanyakan pemuda di usia SMA. Saya sendiri didapuk untuk laden snack yang telah dibungkus plastik (sepertinya waktu itu belum model kardus).

***

Pensi malam itu sungguh semarak. Pemuda yang mempunyai bakat dan ingin tampil, jauh-jauh hari sudah berlatih agar saat di panggul tidak banyak kesalahan yang dibuat. Salah satu penampil yang saya ingat sampai sekarang namanya mas Kenthut, sosoknya jangkung dan pandai bermain gitar. read more

Buku-buku ibuku

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #4

Saya menyadari kalau ibu suka membaca sejak saya sekolah di tingkat SD dulu. Ia suka berpesan supaya saya atau adik-adik saya pinjam buku di perpustakaan sekolah dan ibu akan ikut membaca buku yang kami pinjam tersebut.

Kebiasaan suka membacanya berlangsung hingga sekarang. Ia tak memilih jenis bacaan, apa pun ia baca. Saat ini ia mengoleksi beberapa buku tebal di lemarinya, yang semuanya telah rampung ia baca. Kami – anak-anak ibu – yang memasok buku bacaan kepadanya.

Ia sendiri tak berpendidikan tinggi, hanya sampai level SMP saja. Ia dulu sekolah di SKP, Sekolah Kepandaian Putri. Tak hanya sekedar membaca, namun ia memahami isi buku tersebut. Satu hal yang membikin saya terkejut ketika ia menceritakan buku-buku Ali Audah seri Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya pada suatu kesempatan. Rupanya khusus untuk buku Nabi Muhammad ia bahkan membaca ulang. read more