Mereka-reka mimpi Pak Beye

Sumber: Dari berita ini.

Ini reka-ulang mimpi panjang Pak Beye versi saya:

Pilpres 2024 pun berjalan dengan aman dan damai. Meskipun ada beberapa pihak yang kecewa dengan hasil pilpres tersebut, namun tidak ada yang mengajukan gugatan melalui MK. Telah terjadi pula rekonsiliasi antar mantan presiden dan mereka bersepakat untuk pulang ke kampung halaman masing-masing dengan naik KA bersama-sama.

Tentu saja, satu gerbong. Tiket sudah dipesan. Mereka akan naik KA Ganjaryana Luxury, sebuah KA yang termasuk salah satu kasta tertinggi di antara kelas-kelas KA yang dimiliki oleh KAI.

Pada hari yang telah ditentukan, Pakde Kowi menyambangi rumah Pak Beye untuk bersama-sama berangkat ke Stasiun Gambir. Pakde Kowi menggunakan mobil Innova kesayangannya. Setelah itu mereka menjemput mBak Ega di bilangan Jl. Diponegoro. Karena kabar bertemunya tiga mantan ini telah tersebar ke mana-mana, di sepanjang jalan yang dilalui oleh Pak Beye dan Pakde Kowi terlihat banyak rakyat yang melambaikan tangan dan sambil meneriakkan nama keduanya. Jendela mobil pun dibuka, namun tak ada yang dilemparkan dari dalam mobil.

Nggak lempar kaos seperti biasanya, dik?”

“Lupa bawa mas, tadi buru-buru menjemput panjenengan!”

Mereka pun sampai di kediamanan mBak Ega. Pakde Kowi tahu diri, ia pindah ke kursi sebelah supir. Di tengah duduklah Pak Beye dan mBak Ega. Mereka bertiga berbincang sangat akrab.

Tak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di Gambir. Di lobby stasiun mereka disambut oleh Presiden ke-8. Sebuah pemandangan yang langka, ada tiga mantan dan seorang presiden bertemu di Gambir. Ada ribuan henpon yang mengabadikan peristiwa tersebut. Presiden ke-8 mengajak ketiganya untuk ngopi bareng sambil menunggu waktu boarding. Waktu berlalu tanpa terasa, saatnya para mantan naik ke gerbong Gajayana.

Ladies first...,” kata Pak Beye mempersilakan mBak Ega masuk gerbong duluan.

“O, tidak. Saya tidak ikut naik kereta. Saya akan mendampingi dan mengawal petugas partai saya ini,” ujar mBak Ega dengan genit sambil menunjuk ke arah Presiden ke-8 yang sejak tadi dalam posisi ngapurancang di antara para seniornya.

“Ya ndak gitu. Jangan ikut cawe-cawe lagi. Kita sudah bersepakat to bu… kalau mau naik kereta bertiga dalam satu gerbong,” kata Pakde Jowi dengan nada suara khas miliknya.

Yo wis, ntar di mBlitar aku nggak usah lama-lama deh,” jawab mBak Ega.

***

Arkian mereka masuk ke gerbong Gajayana. Sepanjang perjalanan KA Gajayana di malam itu, tak ada kata yang terucap di antara mereka. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Lalu mereka tertidur.

Jam 02.12 kereta berhenti di Stasiun Solo Balapan. Pak Beye dan Pakde Kowi turun. Mereka tak berani membangunkan mBak Ega – yang mungkin tengah bermimpi indah, hingga perjalanan sampai Surabaya.

Pak Beye melanjutkan perjalanan ke Pacitan dengan naik bus, sedangkan Pakde Kowi naik ojek – karena memang rumahnya hanya berjarak sepelemparan sandal saja dari stasiun.

Tiba di Stasiun Gubeng, mBak Ega terbangun dan ia terkejut di sebelahnya telah duduk seorang lelaki yang rambutnya telah memutih semua.

“Lah… lah.. kok kamu ada di sini. Berarti kamu bukan Presiden ke delapan dong?”

mBak Ega mengucek-ucek matanya berkali-kali, untuk memastikan kalau ia sedang tidak bermimpi.

Catatan kaki:
Ngapurancang merupakan sikap yang biasa dilakukan orang Jawa dengan berdiri dan meletakkan tangan di bawah pusar untuk menghormati orang yang lebih tua. Tangan kanan digenggam oleh tangan kiri, serta sedikit menundukkan tangan. Sikap ini memberikan kesan yang tenang pada para pelakunya.