40 kambing dan satunya anjing

Di suatu  peternakan nan asri, tinggal seorang lelaki tua bersama seekor anjing yang sangat setia kepadanya. Anjing tersebut sering berperilaku seperti manusia pada umumnya, misalnya ia bisa menyediakan kopi-susu bagi tuannya atau bahkan menemaninya ngobrol di siang hari kala ia sedang tidak terlalu sibuk bekerja.

Tugas utama anjing pintar itu sebetulnya menjaga 40 kambing milik Pak Tua tersebut. Berbekal peluit dan catatan berisi daftar nama kambing (ya, ke-40-nya mempunyai nama masing-masing), pagi-pagi sekali ia akan membuka kandang, meniupkan peluit dengan lantang, lalu ia mengabsen para kambing yang secara tertib keluar dari kandang. Nanti di sore hari, ia akan kembali mengabsen para kambing dan memastikan mereka semua masuk ke dalam kandang.

Di area peternakan tersebut, Pak Tua juga memelihara tiga ekor babi, seekor banteng, sepasang ayam dan kadang-kadang datang juga seekor kucing yang masuk rumahnya sekedar mencari sisa makanan.

***

Pada suatu hari, Pak Tua pergi ke kota dengan mengendarai mobil bututnya. Para kambing bersorak gembira, sebab mereka bisa bebas bermain sesuka hati. Permainan yang mereka pilih adalah bermain bola. Seperti halnya manusia, mereka membagi menjadi 2 tim, masing-masing sebelas kambing. Mereka yang tidak ikut bermain bola menjadi tim hore di sisi tepi lapangan. Permainan yang sangat seru. read more

Sedah-Panuluh dan Kakawin Mahabharata

Namaku Panuluh, sebuah nama pemberian kakekku yang berarti berbakat, cerdas, dan sangat kreatif. Aku adalah adik seperguruan Mpu Sedah waktu kami melakukan studi di salah satu universitas di Negeri Hindustan sana.

Hari ini aku berduka setelah mendengar kabar kalau Mpu Sedah menjadi tahanan Prabu Jayabaya di penjara bawah tanah. Sangat keji tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Ah, Prabarini. Perempuan yang sedang matang-matangnya itu memang cinta sejati Mpu Sedah. Bahkan ia rela tidak beristri, sejak Prabarini dinikahkan dengan Jayabaya.

Aku bergegas menuju istana, aku sedang ditunggu oleh penguasa Kerajaan Kediri. Aku tidak tahu agenda pemanggilanku ke istana.

“Karena besok Mpu Sedah akan aku gantung, aku titahkan kepadamu untuk melanjutkan proyek menerjemahkan wiracarita Mahabharata yang kemarin dikerjakan oleh Mpu Sedah!” ujar Jayabaya mengejutkanku.

“Sendika Gusti Prabu,” aku menghaturkan sembah, dan hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutku.

Setelah undur dari hadapan raja, aku segera menuju penjara bawah tanah untuk menemui Mpu Sedah yang menjadi senior sekaligus mentor terbaikku.

Sesampai di hadapannya, aku menyampaikan rasa duka yang mendalam atas apa yang menimpanya kini, sekaligus menceritakan hasil pertemuan dengan Prabu Jayabaya.

“Sebetulnya aku ragu bisa melanjutkan proyek Kakawin Mahabharata itu, Kakang. Apalagi tanpamu,” kataku tertunduk di hadapan Mpu Sedah. read more

Saya [hampir tidak] takut ular lagi

Setelah sering kali menyaksikan tayangan Snake in the City di kanal National Geographic Wild, saya [hampir tidak] takut ular lagi.

O iya?

Dulu, melihat gambarnya saja membuat bulu kuduk saya merinding. Bahkan, kaki saya akan ngregeli ketika di jalan mobil saya melindas bangkai ular (terpaksa melindasnya sebab tak mungkin ada celah untuk menghindar). Atau jika di televisi ada film tentang ular, buru-buru saya memindahkan salurannya.

Waktu kecil dulu, saya ingat teman-teman sepermainan suka memegang dan mempermainkan ular lare angon (Xenochrophis vittatus). Jenis ular ini sangat jinak, sering untuk mainan anak-anak gembala, makanya disebut sebagai ula lare angon (ular anak gembala). Meskipun ndak galak, saya tetap tidak berani memegang seperti teman-teman saya. read more