Hikayat Jamban

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #3

Pada tahun 70-an, saya dan kebanyakan tetangga kalau ingin buang hajat akan pergi ke sungai, bisa sungai alam atau saluran irigasi. Masing-masing orang sudah punya teritori yang dianggap pewe untuk kegiatan selama buang hajat.

Pada suatu hari, kampung saya kedatangan keluarga kaya dan modern gaya hidupnya. Mereka mengontrak rumah salah satu nenek saya, yang lokasinya bersebelahan dengan rumah yang kami tinggali (juga rumah nenek). Baru sehari tinggal di sana, ada tukang yang membikin bangunan jamban di atas sungai yang biasa menjadi tempat kami buang hajat. Bangunan jamban tersebut dari kayu tanpa atap tetapi dilengkapi dengan pintu yang bisa digembok. Cara buang hajat di dalam bangunan tersebut sama dengan cara kami membuang hajat di sungai, tanpa resapan tanpa bak penampung, bedanya hanya dilakukan di tempat yang tertutup. read more

Dewi Bulan

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #2

Waktu itu listrik belum juga masuk ke kampung saya. Menjelang maghrib anak-anak sudah harus masuk rumah, takut dicaplok oleh Batara Kala yang sedang mengitari bumi mencari santapan makan malam berupa anak manusia. Saya patuh betul dengan dengan larangan ini – juga teman-teman sepermainan, tentu saja – tak akan berani berada di luar rumah, setidaknya hingga waktu shalat isya.

Dan ketika bulan purnama datang, itulah kegembiraan kami. Segenap warga desa akan keluar rumah untuk menikmati cahaya bulan. Demikian juga dengan ibu. Ia akan menggelar tikar mendong hasil kreasi anyaman tangannya di depan rumah.

“Kali ini engkau tak usah bermain dengan teman-temanmu. Ibu ingin mendongeng,” ujar ibu dengan ancaman manisnya.

“Ibu akan mendongeng tentang apa?” tanya saya.

“Lihatlah bulan bundar di atas sana. Cantik sekali bukan? Amati lebih lama. Apa yang engkau lihat di wajah bulan itu?” ibu balik bertanya. read more

Bakso anget

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #1

Begini gambaran Kampung Cerbonan tahun 1980-an, tempat masa kecil saya. Rumah kami terletak persis di tepi jalan, menghadap ke Utara, hanya dibatasi oleh selokan. Jembatan terbuat dari coran beton, di kiri-kanan dibangun buk tempat kami duduk-duduk di pagi atau sore hari. Pada sisi luar buk, digambar logo Departemen Pekerjaan Umum (DPU), hasil karya bapak. Dinding rumah bagian depan terbuat dari papan sengon, sisi samping dan belakang berupa gedhek/anyaman bambu. Jembatan tersebut terhubung langsung dengan pintu rumah kami. Bagian belakang rumah, ada halaman yang cukup luas dan sering sebagai arena bermain teman sebaya kami.

Jalan di depan rumah kami, sudah beraspal (belum berupa hotmix, tentu saja). Sambungan listrik belum lama masuk, masih 110V, dan jika pada malam hari digunakan bersama-sama dengan para tetangga, voltage akan ngedrop. Terangnya mungkin sama dengan sinar rembulan ketika purnama. read more