Jaka Umbaran menemukan bapak

Kisah ini dimulai dengan pertemuan dua sahabat, pada saat Kerajaan Pajang memasuki sandyakala. Arkian, Ki Ageng Pemanahan berkunjung ke rumah di Ki Ageng Giring pada suatu siang yang terik. Karena tuan rumah yang dicari tidak ada, Pemanahan langsung menuju dapur untuk mencari air minum. Di sana ia mendapati sebutir kelapa muda yang sudah terkupas namun air kelapanya masih utuh. Saking hausnya, ia tenggak hingga tandas.

Tak lama kemudian, Giring datang dan sangat terkejut melihat sahabatnya itu berada di dapurnya yang masih memegang kelapa muda miliknya.

“Kakang Pemanahan minum air kelapa itu?” suara Giring bergetar menahan geram bercampur sesal.

“Iya, dimas. Segar sekali. Bahkan aku minum sampai habis,” ujar Pemanahan sambil meletakkan kembali kelapa muda itu

Ki Ageng Giring mempersilakan duduk sahabatnya itu, lalu menceritakan tentang wahyu keraton yang berada di air kelapa yang tadi dinimum oleh Ki Ageng Pemanahan.

“Begitulah kakang, siapa yang minum air kelapa ini kelak keturannya akan menjadi raja di Tanah Jawa,” papar Giring dengan menghela nafas panjang. “Karena sudah terlanjur seperti ini, aku usul bagaimana kalau kita berbesanan?” lanjutnya.

“Maksudmu kita menjodohkan Sutawijaya, anakku, dengan putrimu Lembayung, dimas?” Pemanahan menegaskan. Dan mereka pun bersepakat dan segera mempersiapkan pernikahan anak-anak mereka.

Versi lain pernah saya tulis di sini.

Pernikahan yang tidak didasari rasa cinta itu berlangsung dengan sederhana. Sutawijaya meninggalkan Lembayung di rumah Ki Ageng Giring, sementara itu ia kembali ke Mataram untuk mengejar keinginan untuk menjadi seorang raja menggantikan Hadiwijaya yang kala itu bertahta di Pajang. Lembayung ditinggal dalam keadaan hamil tua.

Waktu terus berputar, tahun berganti tahun. Kerajaan Pajang runtuh, Sutawijaya mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Mataram – berdiri di bekas hutan Mentaok yang ia babat bersama ayahnya, Ki Ageng Pemanahan.

***

Anak lelaki yang lahir dari rahim Lembayung kini sudah tumbuh menjadi remaja. Ia bernama Purbaya, namun orang-orang di desanya suka memanggilnya dengan sebutan Jaka Umbaran – anak lelaki yang ditinggal pergi bapaknya – dan ia sering risih dengan panggilan semacam itu.

“Ibu, ini sudah sekian kali aku menanyakan keberadaan bapakku dan ibu selalu menghindar menjawab rasa penasaranku. Kali ini mohon dijawab. Siapa bapakku dan di mana ia berada?” tanya Purbaya memelas sambil mencium lutut ibunya.

Lembayung kali ini akan memberikan jawaban meskipun mengandung teka-teki. “Bapakmu adalah orang yang memiliki alun-alun Mataram.”

Tak sulit bagi Purbaya menterjemahkan kalimat ibunya. Hari berikutnya, ia pamit untuk menemui bapaknya. Lembayung memberikan restu kepada anak semata wayangnya itu.

***

Untuk bisa mendapatkan perhatian Raja Mataram, Purbaya membuat keonaran di alun-alun. Ia ditangkap oleh prajurit kerajaan, diinterogasi  dan kemudian dihadapkan kepada Raja Mataram, Panembahan Senapati alias Sutawijaya.

“Nama saya Purbaya, sering dipanggil dengan Jaka Umbaran. Saya anak lelaki dari seorang perempuan desa yang bernama Lembayung binti Giring. Ibu saya mengatakan bahwa pemilik alun-alun Mataram adalah bapak saya,” tutur Purbaya tegas, tanpa rasa takut.

Ada rona keterkejutan di wajah Raja Mataram sebab ia tidak menyangka kalau lelaki muda di hadapannya itu anak kandung yang ia lupakan. Di sisi hatinya yang lain, ia tidak mau peristiwa di masa lalu akan mencoreng kewibawaanya sebagai raja besar di Tanah Jawa.

Sutawijaya mengeluarkan sebilah keris dari sebuah kotak dan memperlihatkannya kepada Purbaya.

“Keris milikku ini telanjang tanpa warangka (sarung keris). Coba bawa ke ibumu dan tanyakan kepadanya di mana warangka-nya berada?” kata Sutawijaya sambil menyerahkan keris itu.

Sebuah teka-teki lagi, namun Purbaya tidak tahu jawabannya. Ia segera kembali ke desa untuk menemui ibunya.

***

Di hadapan ibunya, Purbaya menceritakan pertemuan dengan Raja Mataram yang tak lain merupakan ayah kandungnya. Lembayung tentu saja paham maksud Raja Mataram yang mengirim keris telanjang kepadanya melalui anak lelakinya.

Lembayung menimang keris itu, lalu menghunjamkan ke dadanya. Purbaya terkejut.

Warangka yang dimaksud adalah dada ibu ini, ngger. Ibu mati untuk menutup malu Raja Mataram dan demi kemulianmu di masa depan, Purbaya!” ujar Lembayung sambil kembali menekan gagang keris masuk lebih dalam hingga menusuk jantungnya.

Purbaya memeluk ibunya yang telah tewas bersimbah darah.