Putri Johar Manik

Kerajaan Baghdad sibuk sekali pagi itu. Mereka tengah mempersiapkan keberangkatan Raja Abbas yang akan berangkat beribadah haji ke Tanah Suci. Seluruh keluarga besar kerajaan berkumpul di balairung istana untuk melepas kepergian junjungan mereka.

Di tengah hingar-bingar upacara pelepasan keberangkatan, Raja Abbas memanggil putri bungsunya, Johar Manik. Gadis cantik usia belasan tahun itu pun segera bersimpuh di depan ayahnya.

“Anakku, selama aku tinggal beribadah haji di Tanah Suci tetaplah belajar pada Guru Mustakim. Aku berharap ketika pulang nanti engkau telah menyelesaikan pelajaranmu.” lanjutkan baca

Sorban Ajisaka

Lanjutan dari Algojo Prabu Dewatacengkar

Masih duduk di kursinya, Algojo membuka map dan jemarinya menuju tumpukan kertas paling bawah. Sejurus kemudian ia lepaskan dari binder, lalu ia perhatikan nama di sana: Ajisaka. Kata-kata yang sudah terucap dari mulut Algojo tak bisa ditarik kembali. Hari itu memang jatahnya Ajisaka untuk dibawa ke istana bertemu dengan Prabu Dewatacengkar.

Tanpa perlawanan, Ajisaka menuruti perintah Algojo untuk naik ke sebuah truck tua yang selama ini menjadi kendaraan Algojo berkelana keliling negeri.

“Aku lihat tak ada takut di raut wajahmu!” lanjutkan baca

Algojo Prabu Dewatacengkar

Rakyat Kerajaan Medang Kawulan sedang resah oleh pernyataan raja mereka, Prabu Dewatacengkar, bahwa ia sedang memerintahkan BPS untuk melakukan sensus penduduk. Sebagai kerajaan yang sedang berkembang dan membangun, ia menginginkan anak muda Kerajaan Medang Kawulan untuk berperan aktif dalam pembangunan. Perintah tersebut tidak boleh dibantah dan wajib dilaksanakan.

Keresahan yang dirasakan rakyat Medang Kawulan dipicu beredarnya kabar bahwa pendataan anak muda sebetulnya hanya kedok belaka. Konon, anak-anak muda tersebut akan disantap sebagai makanan oleh Prabu Dewatacengkar. Sangat mengerikan! lanjutkan baca