Wabah di Kahuripan

Prabu Erlangga judeg pikirannya. Tumenggung Trawang seorang pejabat tertinggi di Ketemenggungan Kasarasan Kerajaan Kahuripan saban hari mesti melaporkan perkembangan penanganan wabah yang terjadi di wilayah Kahuripan. Tumenggung Trawang mencatat, jumlah rakyat yang mati akibat wabah sudah hampir mencapai angka selaksa nyawa. Bagaimana Prabu Erlangga tidak pusing, segala upaya sudah dilakukan namun wabah belum juga sirna.

“Tumenggung, sudah ketemu belum asal muasal sumber wabah tersebut?” tanya Prabu Erlangga kepada Tumenggung Trawang. read more

Putri Johar Manik

Kerajaan Baghdad sibuk sekali pagi itu. Mereka tengah mempersiapkan keberangkatan Raja Abbas yang akan berangkat beribadah haji ke Tanah Suci. Seluruh keluarga besar kerajaan berkumpul di balairung istana untuk melepas kepergian junjungan mereka.

Di tengah hingar-bingar upacara pelepasan keberangkatan, Raja Abbas memanggil putri bungsunya, Johar Manik. Gadis cantik usia belasan tahun itu pun segera bersimpuh di depan ayahnya.

“Anakku, selama aku tinggal beribadah haji di Tanah Suci tetaplah belajar pada Guru Mustakim. Aku berharap ketika pulang nanti engkau telah menyelesaikan pelajaranmu.” read more

Sorban Ajisaka

Lanjutan dari Algojo Prabu Dewatacengkar

Masih duduk di kursinya, Algojo membuka map dan jemarinya menuju tumpukan kertas paling bawah. Sejurus kemudian ia lepaskan dari binder, lalu ia perhatikan nama di sana: Ajisaka. Kata-kata yang sudah terucap dari mulut Algojo tak bisa ditarik kembali. Hari itu memang jatahnya Ajisaka untuk dibawa ke istana bertemu dengan Prabu Dewatacengkar.

Tanpa perlawanan, Ajisaka menuruti perintah Algojo untuk naik ke sebuah truck tua yang selama ini menjadi kendaraan Algojo berkelana keliling negeri.

“Aku lihat tak ada takut di raut wajahmu!” read more