Bara dalam sekam Jayabaya kepada Mpu Sedah

Mpu Sedah adalah brahmana yang tenar dan namanya harum di kalangan Kerajaan Jenggala. Pada usia dua puluh tiga tahun, Mpu Sedah bermaksud melamar gadis pujaan hatinya, Dyah Ayu Prabarini yang berumur tujuh belas tahun. Mpu Sedah masih keturunan Mpu Baradah yang pada masanya diminta oleh Prabu Airlangga membelah kerajaan menjadi dua bagian, yakni Jenggala dan Panjalu.

Syahdan, Prabu Jayadarma yang saat itu bertahta di Panjalu gerah dengan ketenaran Mpu Sedah. Ia ingin menjatuhkan martabat Mpu Sedah dengan menculik Prabarini, calon istri Mpu Sedah. Setelah berhasil menculik Prabarini, ia menjodohkan dengan cucunya, yakni Jayabaya. Rupanya, Mpu Sedah berbesar hati, ia tak melakukan perbuatan yang bisa mencemarkan status brahmana yang disandangnya. lanjutkan baca

Mewujudkan gagasan Poros Maritim Dunia

Beginilah suasana rapat kabinet terbatas Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk yang dihadiri oleh para ibu suri, Mahapatih Gajah Mada, Laksamana Mpu Nala, dan beberapa pejabat di Katumenggungan Kemaritiman.

“Majapahit sebagai kerajaan kepulauan terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menjadi poros maritim dunia, Yang Mulia,” ujar Gajah Mada kepada Hayam Wuruk.

“Poros maritim itu apa Paman Mada?” pertanyaan polos keluar dari mulut Hayam Wuruk yang masih belia itu. lanjutkan baca

Tumenggung Mayang ditundung pergi

Lanjutan dari Kyai Sala dan Mayat Raden Pabelan.

Prajurit yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya untuk memanggil Tumengung Mayang tak perlu mengulur waktu, saat itu juga ia menuju kediamanan Tumenggung Mayang. Perasaan Tumenggung Mayang campur aduk, mengapa ia dipanggil menghadap sultan secara mendadak seperti itu.

“Sampeyan tidak becus mendidik anak. Pabelan telah berani masuk keputren dan berhasil menggoda putriku. Beteng keputren yang sudah dilapisi kekuatan gaib bisa ditembus oleh Pabelan karena ia telah sampeyan bekali ilmu kesaktian!” lanjutkan baca