Buku-buku ibuku

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #4

Saya menyadari kalau ibu suka membaca sejak saya sekolah di tingkat SD dulu. Ia suka berpesan supaya saya atau adik-adik saya pinjam buku di perpustakaan sekolah dan ibu akan ikut membaca buku yang kami pinjam tersebut.

Kebiasaan suka membacanya berlangsung hingga sekarang. Ia tak memilih jenis bacaan, apa pun ia baca. Saat ini ia mengoleksi beberapa buku tebal di lemarinya, yang semuanya telah rampung ia baca. Kami – anak-anak ibu – yang memasok buku bacaan kepadanya.

Ia sendiri tak berpendidikan tinggi, hanya sampai level SMP saja. Ia dulu sekolah di SKP, Sekolah Kepandaian Putri. Tak hanya sekedar membaca, namun ia memahami isi buku tersebut. Satu hal yang membikin saya terkejut ketika ia menceritakan buku-buku Ali Audah seri Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya pada suatu kesempatan. Rupanya khusus untuk buku Nabi Muhammad ia bahkan membaca ulang. read more

Hikayat Jamban

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #3

Pada tahun 70-an, saya dan kebanyakan tetangga kalau ingin buang hajat akan pergi ke sungai, bisa sungai alam atau saluran irigasi. Masing-masing orang sudah punya teritori yang dianggap pewe untuk kegiatan selama buang hajat.

Pada suatu hari, kampung saya kedatangan keluarga kaya dan modern gaya hidupnya. Mereka mengontrak rumah salah satu nenek saya, yang lokasinya bersebelahan dengan rumah yang kami tinggali (juga rumah nenek). Baru sehari tinggal di sana, ada tukang yang membikin bangunan jamban di atas sungai yang biasa menjadi tempat kami buang hajat. Bangunan jamban tersebut dari kayu tanpa atap tetapi dilengkapi dengan pintu yang bisa digembok. Cara buang hajat di dalam bangunan tersebut sama dengan cara kami membuang hajat di sungai, tanpa resapan tanpa bak penampung, bedanya hanya dilakukan di tempat yang tertutup. read more

Dewi Bulan

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #2

Waktu itu listrik belum juga masuk ke kampung saya. Menjelang maghrib anak-anak sudah harus masuk rumah, takut dicaplok oleh Batara Kala yang sedang mengitari bumi mencari santapan makan malam berupa anak manusia. Saya patuh betul dengan dengan larangan ini – juga teman-teman sepermainan, tentu saja – tak akan berani berada di luar rumah, setidaknya hingga waktu shalat isya.

Dan ketika bulan purnama datang, itulah kegembiraan kami. Segenap warga desa akan keluar rumah untuk menikmati cahaya bulan. Demikian juga dengan ibu. Ia akan menggelar tikar mendong hasil kreasi anyaman tangannya di depan rumah.

“Kali ini engkau tak usah bermain dengan teman-temanmu. Ibu ingin mendongeng,” ujar ibu dengan ancaman manisnya.

“Ibu akan mendongeng tentang apa?” tanya saya.

“Lihatlah bulan bundar di atas sana. Cantik sekali bukan? Amati lebih lama. Apa yang engkau lihat di wajah bulan itu?” ibu balik bertanya. read more