Rasa legi, rasa kecut

Minggu Legi, 17 Desember 2017

Akhirnya jadi juga mengunjungi Pasar Legi Kotagede pada pasaran Legi. Waktu tempuh dari SBR (yang jadi basecamp selama di JOG) hanya 10 menitan. Saya melalui Jl. Tegalgendu-Mondorakan, tetapi belum juga sampai di ujung jalan pasar, Kyai Garuda Seta yang saya kendarai diminta untuk putar balik oleh Mas Jukir, karena memang tidak bisa/boleh lewat di hari pasaran seperti itu.

Kemudian saya masuk melalui Jl. Kemasan yang legendaris itu dan diarahkan oleh Mas Jukir supaya parkir di Jl. Karanglo.  lanjutkan baca

Ngantuk berat

Saya bergegas mencari taksi yang kebetulan banyak lewat atau berhenti di depan hotel. Tujuan saya menuju Jabal Rahmah РArafah. Saya berkomunikasi dengan sopir taksi dengan campuran sedikit bahasa Inggris РIndonesia РArab, lebih banyak bahasa Tarzan-nya.

Masya Allah – dua kata ini yang sering terucap dari mulutnya disertai dengan membuka tangan. Selain menjadi sopir, kali ini ia merangkap menjadi guide bagi saya. Ia berasal dari Yaman, sudah 13 tahun tinggal di Mekkah dan Jeddah.

Dari Hadramaut, tepatnya. Saya bilang di Indonesia para habaib juga dari Hadramaut. Kemudian ia menyebut nama-nama habaib terkenal di Indonesia. Masya Allah. Ketika saya tanya apakah pernah ke Jakarta, ia bilang belum pernah ke Indonesia. lanjutkan baca

Betapa kecilnya kita

Kali ini wisata ziarah Kota Madinah tak hanya ke Masjid Quba atau Jabal Uhud dan sekitarnya, di lingkungan Masjid Nabawi terdapat dua museum yang layak untuk dikunjungi yakni Museum Asmaul Husna dan Museum Nabi Muhammad.

Selepas shalat Asar saya dan rombongan jamaah umrah menuju Museum Asmaul Husna. Letak museum ini di sekitar Pintu 8. Saking banyaknya pengunjung yang ingin masuk museum, petugas museum memisahkan rombongan menjadi 2 kelompok besar yaitu dari Indonesia dan India/Pakistan. Kebetulan jamaah dari 3 negara ini yang sedang berkunjung saat itu. lanjutkan baca