Belajar kesabaran

Sabar itu mestinya tiada batas, sehingga terdengar wagu jika seseorang mengatakan kalau kesabarannya sudah habis. Berarti ia tidak sabar lagi. Seperti kata merdeka, mestinya tidak perlu didefinisikan arti merdeka itu apa, sebab jika didefinisikan maka ia tidak merdeka lagi, ia menjadi terkekang.

Secara merdeka kita boleh belajar kesabaran dari alam sekitar. Misalnya kepada buah-buahan. Aneka buah sampai menjadi masak/matang ada tata-waktunya: hanya manusia yang tidak sabar yang ingin segera menikmatinya sehingga ia mengeramnya dengan menaburi karbit agar cepat masak. read more

Diculik jin#1

Di pertengahan 1993, waktu itu saya bekerja di sebuah perusahaan HPH yang lokasinya di jantung Borneo, sebagai Kasi Perencanaan dan Pemetaan. Seingat saya, untuk menuju camp di tengah hutan – tempat sehari-hari saya bekerja, ditempuh sekitar 8 jam dari Kota Puruk Cahu (di tepi S. Barito) dengan mengendarai jip Toyota Hartop atau seharian jika menyusuri Sungai Murung. Jangan dibayangkan jalan beraspal mulus ya, waktu itu masih berupa jalan tanah yang juga dipakai sebagai jalur logging truck.

Pekerjaan saya berdasarkan dari Laporan Hasil Cruising yakni hasil pengolahan data pohon dari pelaksanaan kegiatan timber cruising pada petak kerja tebangan yang memuat nomor pohon, jenis, diameter, tinggi pohon bebas cabang, dan taksiran volume kayu. Seingat saya, 1 petak kerja berukuran 1 km2 yang disurvei oleh 1 regu timber cruising selama 2 minggu. Ya, kegiatan timber cruising mesti masuk dan menginap di dalam hutan selama 2 minggu! read more

Masih ada hujan di akhir Mei

Bulan ini mestinya sudah memasuki musim kemarau, tetapi hujan sesekali masih turun ke bumi. Musim penghujan sering membuat susah gelandangan semacam Bambang Ekalaya. Remaja yang belum genap berusia tujuh belas tahun itu, hidup menggelandang di jalanan kota, mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah.

Kota Hastinapura bukan tempat yang ramah bagi orang-orang kasta rendah seperti dirinya. Tak jarang, polisi pamong praja mengusir gelandangan dan pengemis untuk keluar kota dan tak jarang memaksa mereka kembali ke hutan. Ekalaya sendiri mendirikan gubug sederhana di tengah hutan, tinggal bersama-sama kaum marjinal yang keberadaannya tidak dikehendaki oleh orang-orang kaya. read more