Ingin selangsing Will Smith

will smithPada suatu hari, saya melihat timbangan digital yang dilengkapi dengan skala kegemukan badan seseorang. Misalnya, jika seseorang itu beratnya X kg, maka ia dikategorikan kurus/gemuk atau ideal. Iseng-iseng saya naik di atas papan timbangan itu dan jarum timbangan segera bergeser dengan cepatnya menuju skala sekian kilogram dan jarum menunjuk kepada tulisan “kelebihan berat badan”.

Hmm… rupanya saya masuk golongan manusia bertubuh subur-makmur meskipun belum ke arah weton setu legi: setengah tuwir lemu ginuk-ginuk. Ini sih untuk menghibur diri.

Di rumah juga ada timbangan yang sewaktu-waktu dapat saya manfaatkan. Setahu saya untuk mengetahui tubuh berat badan ideal (orang dewasa) menggunakan rumus sederhana: Tinggi Badan (TB) – 100 = Berat Badan Ideal (BBI). Belakangan kawan saya yang seorang dokter memberitahu kalau rumus yang lebih tepat adalah BBI = (TB – 100) x 90%. lanjutkan baca

Bersama Kartini di 2014#4

Sabak berkaca itu tak lepas dari tangan Nyonya Abendanon. Londo asli ini rupanya masih terkagum-kagum dengan benda berteknologi canggih karya londo-amerika. Meskipun begitu mulutnya tak berhenti bergerak karena asyik mengudap Klappertaart dan Macaroni Schoetel. Saya sama sekali tak menyentuh dua makanan ini, memang karena saya nggak suka. Saya lebih senang makan Bitterballen, yang rasanya mirip dengan kroket itu. Kartini dan adik-adiknya memilih Oliebollen, yang isinya potongan apel.

“Kami mengucapkan terima kasih pada paman Kyaine yang telah mengantar kami hingga bertemu dengan Nyonya Abendanon. Kalau tidak keberatan, bisakah paman mengabarkan kepada ayahanda kalau ketiga putrinya dengan selamat sampai di Buitenzorg?” pinta Kartini.1

***

Perjalanan saya ke Jepara kali ini, selain menemui RMA Sosroningrat2 juga ingin lihat-lihat sentra mebel ukir Jepara yang terkenal itu. Sehabis nyoblos, saya berangkat ke Jepara dengan mengendarai Kyai Garudayaksa Seta3 yang perkasa. Jalan Pantura yang berlubang saya terabas saja. lanjutkan baca

Bentak

Pemandangan yang memiriskan hati beberapa kali saya alami ketika menyaksikan para jamaah umroh/haji asal Indonesia yang dibentak-bentak oleh petugas/aparat Saudi Arabia. Apalagi para jamaah tersebut sebagian besar sudah masuk golongan usia sepuh.

Bayangkan situasi seperti ini:

Biasanya, tiga atawa empat jam sebelum keberangkatan pesawat mereka harus tiba di bandara, hal ini untuk mengantisipasi padatnya antrian check in dan proses imigrasi. Bisa jadi, jamaah yang datang dari luar kota berangkat dari rumah berjam-jam sebelumnya. Mereka pasti lelah lahir batin. lanjutkan baca