Cola obat migrain?

Dalam Kata Pengantar novel terbarunya, Majapahit 2: Bala Sanggrama (Penerbit Bentang, Oktober 2013), Pak Langit Kresna Hariadi menceritakan tentang penyakit migrain yang cukup lama dideritanya. Kali ini, ia juga menyinggung saat ia sudah putus asa ketika menghadapi masalah saraf terjepit di lumbar sacral L4 dan L5. Namun yang ia ceritakan adalah tentang kesembuhannya yang ternyata dengan cara sangat sederhana: senam. Dengan gerakan tertentu, saraf kejepit sembuh dalam 2 minggu, sembuh total dalam sebulan. Tak perlu operasi.

Kembali ke penyakit migrain yang diderita Pak Langit. Ia mengisahkan, sebulan lebih ia digoda kondisi ini menyebabkan ia lumpuh total, tidak bisa berbuat apa-apa. Sedemikian parahkah migrain yang dideritanya? Pak Langit mengambarkan bahwa migrain adalah sakit kepala sebelah yang luar biasa, nekjika rambut di bagian sebelah kepala terkena sisir sakit banget rasanya. lanjutkan baca

Modus tuyul

Mengikuti berita tentang perkorupsian di negeri ini bikin eneg juga. Mengerikan. Hampir saban hari terungkap satu kasus korupsi. Ternyata koruptor itu sangat rakus dan semua dilakukan secara berjamaah. Manusia kalau sudah menjadi setan, tingkah lakunya bahkan melebihi setan itu sendiri.

Ini bukan contoh yang baik, tetapi sekedar membandingkan orang yang pengin kaya dengan cara memelihara tuyul dengan seorang koruptor.

Makhluk gaib kecil-mungil hitam-legam setinggi kira-kira 40 cm itu sering dipelihara seseorang untuk menumpuk kekayaan dengan cara bersekutu dengan setan. Untuk mendapatkan tuyul harus melalui ritual khusus dengan perjanjian membayar tumbal. lanjutkan baca

Benik

Kancing baju dalam bahasa Jawa disebut dengan benik. Dan bagi saya lebih nyaman menyebutnya dengan benik dalam percakapan sehari-hari. Pernah suatu ketika saya mengagumi benda yang berfungsi sebagai pengait itu. Sungguh brilian orang yang pertama kali menciptakan benik. Dari beberapa referensi yang saya baca, benik awalnya dibikin dari ranting atawa potongan kayu. Dalam perkembangannya, baru pada zaman Kerajaan Persia barulah tercipta benik yang berbentuk bundar seperti yang dikenal sekarang ini.

Kemudian di abad XVIII, orang Eropa mulai memanfaatkan benik yang terbuat dari kulit kerang atawa mutiara. Pada masa itu, dalam fesyen, benik tak sekedar pengait belaka. Ia mulai menjadi aksesori yang amat penting untuk menambah keindahan sebuah busana.

Kini, model dan bahan benik beraneka macam. lanjutkan baca