PMK: Pasukan Memburu Kucing

Lima atawa enam tahun lalu, saya pernah mendapatkan sebuah komplain unik. Ada satu pabrik yang mengeluhkan banyak kucing di area pabriknya. Hedeh…. masalah seperti ini kok di-komplain-kan sih? Kata saya dalam hati. Tetapi dalam filosofi melayani para pelanggan, apa pun komplainnya wajib didengarkan dulu.

Apa yang para kucing cari masuk ke dalam pabrik? Apakah mereka mau unjuk rasa kenaikan upah? O, ternyata tujuan mereka adalah kantin pabrik, tempat di mana pekerja pabrik makan. Kucing akan berpesta-pora menikmati sisa-sisa lauk katering yang dimakan pekerja pabrik. lanjutkan baca

Punya pentil, mBak?

Kemarin, sehabis menikmati makan siang di Rest Area KM 57 saya mampir di stasiun pengisian nitrogen untuk mengecek tekanan ban Kyai Garudayaksa. Hal ini memang saya lakukan secara rutin, supaya kereta besi buatan Dai Nippon itu nyaman dikendarai.

Kata pakar otomotif, salah satu manfaat ban diisi dengan nitrogen sebab nitrogen tidak cepat panas karena memiliki jumlah molekul lebih besar sehingga ban tidak mudah kempes dan panas. Selain itu nekjika ban menggunakan nitrogen bantingan suspensi terasa lebih lembut dibandingkan dengan isi angin biasa. Gas nitrogen dapat menjaga elastisitas ban sehingga kelenturan karet semakin terjaga.

Salah satu tanda jika ban kendaraan memakai nitrogen, tutup pentil ban yang digunakan berwarna hijau terang, sedangkan jika isinya angin tutup pentil berwarna hitam. lanjutkan baca

Berbatik

Kata batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: amba, yang bermakna menulis dan titik yang bermakna titik. Alat yang dipakai untuk menulis titik tersebut dinamakan canting. Teknik batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java tulisan Sir Thomas Stamford Raffles tahun 1817.

Batik sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Tak hanya Solo dan Djokja saja yang punya batik. Di mana-mana ada: Cirebon, Toraja, Flores, Halmahera, Papua dan sebagainya. Bukalah referensi tentang batik, sepanjang kepulauan Nusantara mempunyai batik dengan ciri khas masing-masing. Tak heran, UNESCO menulis dalam situs resminya bahwa batik Indonesia memiliki banyak simbol yang bertautan erat dengan status sosial, kebudayaan lokal, alam dan sejarah itu sendiri.

Batiknya rakyat jelata berbeda dengan batiknya kaum ningrat, namun kedua status sosial tersebut dapat disatukan oleh batik. Corak dan jenis batik Solo berbeda dengan batik Madura atawa batik Rembang, yang semuanya mengandung ciri kebudayaan lokal di mana batik itu tumbuh. Orang Solo pantas saja memakai batik Madura, atawa sebaliknya orang Madura pantas memakai batik Solo. Lagi, batik menyatukan suku bangsa. Ber-bhineka tunggal ika melalui batik.  Ya, batik dinilai sebagai identitas bangsa Indonesia. lanjutkan baca