Payung

Hujan hampir saban hari turun, dan benda yang sangat kita butuhkan untuk melindungi tubuh dari hujan adalah payung. Tapi tahukah kita, ternyata keberadaan payung mempunyai sejarah yang cukup panjang. Konon, ketika orang Inggris menamai payung dengan umbrella menyerap dari bahasa Latin, umbra yang berarti tempat teduh.

Sejak tahun 12 SM, para bangsawan Mesir maupun Tiongkok menjadikan payung sebagai atribut kebangsawanan mereka. Waktu itu, payung termasuk jenis benda yang sangat mahal dan langka. Selain itu, payung juga sangat berat sehingga harus ada orang khusus yang memegangi atawa membawakannya. Setidaknya hal ini bisa kita lihat pada gambar-gambar kuno, di mana para raja atawa bangsawan tersebut diiringi budak/prajurit pembawa payung yang tugasnya melindungi majikan dari hujan dan sengatan matahari. Betapa jumawa para bangsawan yang berjalan di bawah payung, sehingga payung menjadi status kehormatan seseorang. lanjutkan baca

Bukan matematika ibu

Hari ini tanggalnya indah betul: 11.12.13. Urutan angka hari-tanggal-tahun seperti ini hanya akan terjadi paling cepat seratus tahun lagi. Maka tak heran, banyak orang memilih kombinasi tanggal hari ini untuk membuat suatu momen spesial, nikah misalnya. Bahkan bisa jadi para ibu hamil banyak yang ngebet melahirkan di tanggal ini dengan cara dioperasi.

Mari kita kupas rangkaian angka 11.12.13 ini.

Deretan angka tersebut jika dijumlahkan 1+1+1+2+1+3=9 atawa 1+1+1+(2x1x3)=9 atawa 11+12+13=36, jika 3+6 dijumlah ketemu angka 9, di mana angka 9 yang merupakan angka tertinggi dalam urutan angka 1 s/d 9, suatu urutan yang sudah menjadi kesepakatan sejak zaman dahulu kala.

Sekarang kita ambil angka 11 dan 12. Ada ungkapan dalam percakapan sehari-hari ‘sebelas dua belas’ untuk menggambarkan dua hal yang mirip tetapi sebetulnya berbeda. Angka 11 dan 12 jelas berbeda, bukan? Mungkin karena mudah dalam pengucapan dan kedekatan dua angka ini, maka angka 11 dan 12 yang diambil. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ‘sebelas dua belas’ ini.

Contoh penggunaan 11 – 12 dalam kalimat percakapan: Walaupun wajahnya biasa-biasa saja, namun kalau diamat-amati lebih detil wajahnya sebelas dua belas deh dengan Prisia Nasution. Atawa ketika membandingkan sifat dan perilakunya: Kelihatannya sih alim, tapi sebenarnya sebelas dua belas dengan koruptor lain. lanjutkan baca

Cola obat migrain?

Dalam Kata Pengantar novel terbarunya, Majapahit 2: Bala Sanggrama (Penerbit Bentang, Oktober 2013), Pak Langit Kresna Hariadi menceritakan tentang penyakit migrain yang cukup lama dideritanya. Kali ini, ia juga menyinggung saat ia sudah putus asa ketika menghadapi masalah saraf terjepit di lumbar sacral L4 dan L5. Namun yang ia ceritakan adalah tentang kesembuhannya yang ternyata dengan cara sangat sederhana: senam. Dengan gerakan tertentu, saraf kejepit sembuh dalam 2 minggu, sembuh total dalam sebulan. Tak perlu operasi.

Kembali ke penyakit migrain yang diderita Pak Langit. Ia mengisahkan, sebulan lebih ia digoda kondisi ini menyebabkan ia lumpuh total, tidak bisa berbuat apa-apa. Sedemikian parahkah migrain yang dideritanya? Pak Langit mengambarkan bahwa migrain adalah sakit kepala sebelah yang luar biasa, nekjika rambut di bagian sebelah kepala terkena sisir sakit banget rasanya. lanjutkan baca