Sebangku dengan Mas Yamik

Karena berencana mendadak pergi ke SOC-JOG, sempat kesulitan mendapatkan tiket meski akhirnya bisa berangkat dari Stasiun Bandung. Saya tiba di stasiun menjelang maghrib dan njujug masjid stasiun setelah urusan menginapkan Kyai Garuda Seta selesai.

Masjid yang kecil tak mampu menampung jamaah, sehingga shalat jamaah dilaksanakan menjadi beberapa kloter. Adalah ketika kloter kedua selesai saya menyaksikan seseorang berpenampilan seniman: rambut gondrong, jenggot panjang dikucir, telinga kiri-kanan beranting, berkalung panjang, dengan pakaian serba hitam. Dalam hati saya ngrasani: boleh juga nih seniman, mengutamakan shalat tepat waktu dan berjamaah pula. read more

Comblang kawan lama

n_aPertemuan dengan sahabat lama di masa-masa sekolah dulu sangat mengasyikkan. Maka tak heran acara reunian teman sekolah selalu disambut antusias. Zaman sekolah dulu – dari tingkatan SD sampai bangku kuliah – interaksi dengan teman sebaya indah untuk dikenang.

Pada era internet seperti sekarang ini, mencari teman lama semakin mudah meskipun teman yang dicari tersebut bersembunyi di balik jerami. read more

Tentang Banowati

Sudah satu setengah bulanan saya ndak menampilkan cerita wayang. Selama waktu itu saya tengah mengunyah sebuah umpan-balik dari salah satu pembaca buku Srikandi Ngedan dan Giliran Petruk Jadi Presiden.

Syahdan, kedua buku tersebut sengaja saya berikan kepada seorang kawan yang sangat senang dengan kisah pewayangan atau kisah yang berlatar budaya Jawa. Ia sendiri penggemar SH Mintardja sejak mudanya. Tak heran kalau ia memberikan nama anak lelakinya dengan nama muda Panembahan Senapati.

Sebetulnya ia sudah berusaha memperkenalkan kisah pewayangan kepada anak lelakinya itu – bahkan sering diajak nonton pagelaran wayang semalam suntuk, tetapi minat terhadap wayang tak begitu menggembirakan hati kawan saya itu. Anaknya bilang kalau sulit mencerna cerita wayang. Maka, ketika ia mendapatkan dua buku Wayang Slenco dari saya, ia tawarkan kepada anaknya untuk dibaca.

Waktu kawan saya bercerita kalau Srikandi dan Petruk dibaca anaknya, saya agak was-was. Maklum, Srikandi dan Petruk kan bacaan orang dewasa. Kawan saya menjamin tak apa-apa, toh anaknya itu sudah hampir lulus SMA.

***

Saya sungguh senang mendengar berita dari kawan saya itu kalau anak lelakinya sangat menyukai cerita wayang versi Srikandi dan Petruk. Sebetulnya, umpan-balik semacam ini sudah sering saya dengar atau baca dari email yang masuk. Survei kecil-kecilan saya, banyak pembaca Srikandi dan Petruk yang kini pada demen banget dengan kisah Mahabharata yang tayang di ANTV saban malamnya. read more