Rapid

Karena alasan supaya anak-anaknya bisa kumpul, peringatan 100 hari meninggalnya bapak dilaksanakan malam minggu. Tadi malam. Saya berangkat naik bus dari Karawang Jumat malam, sampai di Terminal Tirtonadi esok hari menjelang subuh.

Saya sudah punya tiket rencana kepulangan ke Karawang pada Minggu sore. Nantinya berangkat dari Terminal Tirtonadi.

Kira-kira 3 mingguan ini, sebagai admin WA Group saya sudah me-remove 3 teman dengan alasan ketiganya meninggal dunia karena sakit yang kurang dari seminggu dirawat di RS. Teman-1 merupakan kolega bisnis, teman-2, teman sekolah saat di SD-SMP-SMA dan teman-3 merupakan rekan kerja satu kantor,  yang dimakamkan kemarin siang – saya sudah berada di Karanganyar.

Ketika saya memonitor prosesi pemakaman teman saya tersebut, masuk pesan via WA dari sahabat saya yang menginformasikan kalau istrinya sedang kritis di RS. Ia meminta doa supaya dimudahkan kepergian menghadap-Nya. Memang pada bulan kemarin ia memberitahu saya kalau dokter sudah memberikan ancer-ancer berapa lama lagi istrinya bertahan hidup akibat kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. read more

Tua itu pasti, tapi jangan pikun

Saat melewati usia setengah abad dua setengah tahun lalu hampir tiada berasa. Perputaran roda-roda mesin waktu seakan semakin cepat saja. Tau-tau jadi tua.

Jika melihat wajah di cermin seakan tidak berubah, perasaan masih mirip seperti di masa kecil dulu. Cermin pasti jujur, menampakkan gurat-gurat kasepuhan di wajah saya, hanya perasaan ini saja yang suka membohongi diri: masih muda.

Arkian, naik tangga sepuluh langkah saja nafas sudah saling memburu, pun melangkah mulai diseret bahkan ada beda tinggi pada lantai kaki saya terantuk. Itu tanda-tanda tua. Pandangan tak setajam mata elang lagi. Ketinggalan kacamata baca tak bisa lagi mengeja kata apalagi kalimat. Itu tanda-tanda tua. read more

Penyempitan diskus L 4/5, suspect HNP

Setahun belakangan ini, saya merasakan tidak beresnya kondisi boyok saya. Keadaan sakit pinggang – menjalar sampai di paha – begitu berasa ketika saya berdiri tegak. Kalau sudah pegal-pegal semacam ini, saya mengandalkan obat rematik yang dijual bebas di pasaran, atau paling banter pergi ke dokter umum dan mendapatkan beberapa jenis obat yang menghilangkan rasa sakit boyok saya.

Hilang sakitnya cuma sementara sih, nanti juga kambuh kembali.  Tapi kadang-kadang kadar asam urat dan kolesterol saya tinggi, sehingga pegal-linu semakin sempurna rasanya.

Arkian, ada referensi untuk berobat alternatif dengan cara terapi cubit, di bilangan Piyungan Bantul. Karena merasa enakan, saya mengulang beberapa kali.

***

Dan saya pun ke JOG dalam kali kesebelas untuk terapi. Malam sabtu saya sudah berada di JOG, seperti biasanya.

Bangun tidur, mata kaki saya bengkak dan sakitnya minta ampun. Pagi itu saya pergi ke RSPR – rumah sakit yang nggak jauh dari Bunderan UGM, dan memilih untuk ke dokter internis. read more