Sarung untuk Ojo

“Pak Suryat, kula sakniki sampun saged shalat. Menawi wonten sarung nganggur mbok kagem kula setunggal!”

Mas Suryat tertegun sejenak, begitu mendengar permintaan Ojo yang dirasa ganjil di telinganya. Sekarang Ojo sudah bisa shalat! Mas Suryat menyebut kebesaran Gusti Allah yang punya kuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Sudah sejak lama Mas Suryat mengajak Ojo shalat. Ojo yang bertugas di bagian front office itu suka menggelengkan kepala jika diajak shalat. Bahkan ketika Ojo ikut Mas Suryat mudik lebaran, ia memilih menunggu di mobil daripada masuk masjid untuk menunaikan shalat. read more

Sambel bakso

Malam menjelang larut. Sambil pulang ke rumah, Paiman mendorong gerobak bakso miliknya belok ke Sekar Kinanti Residence (SKR), sebuah kompleks perumahan baru. Siapa tahu, baksonya habis di sana sehingga pulang ke rumah dengan hati berbunga.

Ia menyapa petugas Satpam kompleks agar diizinkan masuk ke dalamnya. Untuk menarik perhatian penghuni kompleks ia bunyikan mangkuk dengan memukulnya dengan sendok.

Ting… ting… ting…

Dan benar saja. Ia dipanggil penghuni Blok G1 dan memesan 6 mangkok bakso.

“Sambelnya mana, mas?” read more

Pungli sehidup-semati

(1)

Pakde No sedang mengantri di KUA. Ia ingin mengurus pernikahan anak perempuannya bulan depan. Berkas yang ia bawa rasanya sudah lengkap, termasuk berkas data calon menantunya.

(2)

O, iya. Sebelum ke KUA, Pakde No mesti urus surat pengantar/keterangan dari RT/RW sampai ke Kantor Desa dan Kecamatan. Semua itu untuk melegalisasi bahwa anak perempuannya benar penduduk di sana.

(3)

Untuk tempat hajat pernikahan anaknya, Pakde No tak mampu menyewa gedung pertemuan. Maka, ia memilih buka hajat di rumah saja, dengan menutup jalan di depan rumahnya. Namun, untuk menutup jalan ia perlu izin kepada instansi yang berwenang. read more