India #10: Serious Men

Directed by Sudhir Mishra • Written by Bhavesh Mandalia, Abhijeet Khuman, Niren Bhatt, Nikhil Nair • Based on Serious Men by Manu Joseph • Starring: Nawazuddin Siddiqui, Indira Tiwari, Nassar, Aakshath Das, Sanjay Narvekar • Release: Oct 2020

Dalam mendapatkan fasilitas pendidikan di RI ini, saya termasuk orang yang bejo. Saya dilahirkan dari keluarga dari kalangan biasa-biasa saja (yang secara diam-diam masyarakat membuat kelas/strata di lingkungannya). Waktu di level pendidikan dasar, sekolah saya tak jauh dari rumah, yakni SD Negeri 1 – yang saat itu biasa disebut “SD Center”, sebuah SD terbaik yang sering bersaing dengan SD Negeri 3 di Kota Kelahiran.

Era 80-an, untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi diseleksi dengan ujian tertulis. Lulus SD Negeri 1, saya berhasil masuk SMP Negeri 1 – masih menjadi SMP terbaik di Kota Kelahiran yang sering  bersaing dengan SMP Negeri 2. Ketika di level SMA pun, saya masuk menjadi salah satu murid di SMA Negeri 1 – dan tentu saja menjadi SMA terbaik di Kota Kelahiran, tanpa ada saingan. Kuliah pun saya berhasil masuk di salah satu Universitas terbaik di Indonesia.

Apakah karena saya pintar? Tidak. Seperti saya sebutkan di depan: saya hanya bejo, beruntung. Nilai-nilai akademik saya tidaklah fantastis, bahkan IP Kumulatif tak sampai 2.75. Kelak, ketika anak-anak saya bersekolah saya tidak mengharuskan mereka pintar. Namun pada kenyataannya, secara akademik mereka lebih pintar dari bapaknya.

Saya bukan sosok seperti Ayyan Mani dan saya tidak tinggal di India.

Film Serious Men menggambarkan realita kehidupan masyarakat India yang masih menggunakan sistem kasta. Ayyan dan keluarganya tinggal di rusun kumuh. Namun ia dengan percaya diri mendaftarkan Adi Mani, anak lelakinya, ke sekolah berkualitas. Meskipun harus berhadapan dengan sistem kasta yang bahkan berlaku pada proses pendaftaran sekolah. Sejak memulai pendidikan saja kasta mereka sudah menjadi penghalang atau mempermudah jalan menuju masa depan.

Bandingkan dengan kebijakan negeri kita tercinta, dengan membawa SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) saja kita bisa masuk sekolah favorit, bukan?

Meskipun Ayyan Mani yang lahir dari kasta rendah, namun ia peka dengan lingkungan sekitarnya. Ia sendiri bekerja menjadi staf seorang ilmuwan terkenal. Ia menyebut atasannya sebagai serious man, karena kemampuannya merekayasa teori ilmiah padahal secara teknis merupakan fiksi ilmiah. Hal itu yang secara mengejutkan mampu memanipulasi orang untuk melihatnya sebagai seorang cendekiawan berkelas.

Ayyan sendiri paham watak orang-orang tertentu dan bagaimana cara kerja dunia. Ia sering mencuri dengar ketika atasannya berbicara dengan seorang politikus, sehingga ia sendiri dianggap sebagai serious man di lingkungan tempat tinggalnya yang kumuh itu. Bahkan ia bisa masuk ke dalam lingkaran dalam seorang politikus yang sedang berkampanye.

Ayyan percaya bahwa pendidikan yang tinggi dan kecerdasaan merupakan jalan untuk masa depan anaknya yang lebih baik dari dirinya. Maka, mulailah ia merekayasa supaya anaknya itu menjadi anak yang jenius, serious man yang sukses.

Film Serious Men merupakan komedi satire. Salah satu materi humor satire yang menarik dalam film ini adalah konsep di mana ketika orang tidak paham apa yang kita katakan, berarti kita adalah seorang jenius.

 

(Visited 13 times, 1 visits today)