Buku kedua saya berjudul Srikandi Ngedan

Persentuhan saya dengan dunia wayang dikenalkan oleh orang tua saya. Hanya sekedar senang saja menonton pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Setidaknya, saya pernah beberapa kali menyaksikan aksi dalang terkenal Ki Anom Suroto atawa Ki Manteb Sudarsono memainkan wayang kulit. Saya ingat betul bagaimana ibu saya akan membangunkan saya ketika adegan goro-goro dimulai, sebab pada adegan ini banyak hal lucu yang terjadi dalam dialog para Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Esensi cerita wayang sendiri baru saya pahami ketika saya berada di bangku SMA. lanjutkan baca

Buku pertama saya berjudul KSADT

Seperti saya ceritakan dalam artikel sebelumnya, kalau saya sedang siap-siap menerbitkan 2 (dua) judul buku. Saya aktif ngeblog sejak Oktober 2008 dan hingga saat ini sudah lebih dari seribu tiga ratus artikel yang saya publikasikan di blog saya. Tak ada artikel yang berat menurut saya, memang karena kemampuan menulis saya masih pada tataran ringan interesan.

Saya berfikir kenapa tulisan sebanyak itu tidak saya rangkum menjadi buku saja. Apalagi blog saya termasuk blog berbayar, bukan gratisan, yang artinya saban tahun saya mesti membayar biaya sewa hosting dan domain. Kalau telat bayar, blog saya bakalan diblokir sementara dan nekjika nggak bayar-bayar ya ditutup. Maka, cara jitu untuk menyimpan tulisan-tulisan saya supaya bisa disentuh,  dibuka lembaran-lembarannya, dibaca, dan disimpan di rak lemari saya tampilkan dalam bentuk buku cetakan. lanjutkan baca

Mubaligh Two in One

Beberapa hari belakangan, ada kehebohan berita tentang seorang pendakwah yang mengunci kepala operator sound system dengan kakinya, gara-gara ia nyetel volume pelantang suara nggak sesuai dengan keinginan sang pendakwah. Aksi ini dilakukan di atas panggung, disaksikan oleh banyak pasang mata, dari anak-anak hingga orang tua.

Peristiwa ini mengingatkan saya pada sebuah humor tentang seorang Mubaligh yang punya pekerjaan sambilan menyewakan pelantang suara.

~oOo~

Ada seorang mubaligh, namanya Rasyidi. Di samping mubaligh ia punya pekerjaan sambilan, menyewakan pengeras suara. Kalau ingin praktis bisa mengundang Kiai Rasyidi mengisi pengajian sekaligus menyewa pengeras suaranya. Katakanlah paket two in one.

Suatu hari mubaligh kita ini sedang di atas mimbar dalam acara isra mikraj. Ia menguraikan perjalanan Kanjeng Nabi mikraj ke langit lapis tujuh. Sambil berbicara, ia melirik anak kecil yang main-main dengan mesin pengeras suaranya. Maka beliau pun menyempatkan untuk memperingatkan anak-anak itu. lanjutkan baca