Bang Kumis membaca Inferno

Di hotel prodeo, Bang Kumis protes kepada sipir karena tidak disediakan koran. Kata sipir, penjara nggak ada bajet untuk pengadaan koran atawa majalah. Sebagai seorang kutu buku hidup di dalam bui tanpa bacaan untuk waktu yang lama sungguh menyiksa. Beruntung, sipir penjara memperbolehkan para penghuninya membawa buku bacaan dari luar.

Pada suatu siang, Bang Kumis mendapatkan kiriman sebuah buku dari kerabatnya. Sebuah novel terbaru yang ditulis oleh pengarang favoritnya: Dan Brown. Semua buku Dan Brown sudah dibacanya, seperti The Lost Symbol, Angels & Demons, Deception Point, Digital Fortress dan tentu saja novel yang paling banyak dibaca sepanjang waktu oleh banyak kalangan yakni The Da Vinci Code. lanjutkan baca

Agustus-1 | Tak Ada Nasi Lain

Agustus adalah bulan Proklamasi RI. Saya akan mengawali mengenang Proklamasi RI tahun 1945 tersebut dengan membagi tulisan tentang sebuah novel yang berlatar belakang suasana masa awal kemerdekaan Republik ini. Novel itu berjudul Tak Ada Nasi Lain, karya Pak Suparto Brata (kini, 81 tahun), yang saya temukan di Solo pertengahan Juni lalu.

Adalah Saptono, seorang anak lelaki asal Sragen yang dititipkan ibunya pada sebuah keluarga ningrat yang masih terhitung buliknya di daerah Gajahan (barat Alun-Alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat). Ia hidup bersama dengan para saudara sepupunya, dengan melalui kehidupan zaman Hindia Belanda, transisi pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, hingga awal tahun 1960-an. Pak Suparto Brata sangat detil menceritakan suasana Kota Solo di masa lalu di mana Saptono menjalani kehidupannya di kota itu. Tak Ada Nasi Lain seperti biografi penulisnya.

Bagi saya yang lahir jauh setelah Indonesia merdeka, detil di novel tersebut memberikan pengetahuan yang sangat berarti secara tempat-tempat yang disebutkan dalam novel tersebut kaki saya pernah menginjaknya. Gaya reportase Pak Suparto Brata seakan melengkapi cerita Bapak saya seputaran Solo di zaman penjajahan Jepang. lanjutkan baca

Penangsang untuk ibu

Ketika berada di Jogja, kurang afdol nekjika tidak menyusuri Malioboro. Musim libur sekolah seperti ini di seputaran Malioboro ramai sekali oleh wisatawan anak-anak sekolah dari luar kota. Bus-bus pariwisata memenuhi lahan parkir di utara Malioboro atawa di Alun-Alun Keraton. Beruntung, pas menjelang senja ada parkir kosong di basement Malioboro Mall (MM), sehingga Kyai SX4 dapat ngaso secara nyaman di sana.

Di Malioboro saya bertemu dengan Haryo Penangsang – Adopati Jipang Panolang yang musuhnya Jaka Tingkir itu. Novel ketiga dari Trilogi Penangsang karya NasSirun PurwOkartun yang berjudul Tarian Rembulan Luka (Metamind, Mei 2013) itu menjadi teman saya di sela-sela kegiatan Kika di UGM. lanjutkan baca