Bersama Kartini di 2014#3

Saya kembali dari toilet, di lobby hotel sudah ada ketiga puteri Jepara yang sedang ngobrol bareng Nyonya Abendanon. Saya bermaksud pamitan, karena tugas saya sudah selesai mengantar trio puteri Adipati Jepara dengan selamat bertemu dengan orang yang dituju sesuai pesan RMA Sosroningrat.

Tapi Kartini menahan maksud saya dan mengajak saya mengudap snack dan ngopi-ngopi dulu. Kami berjalan ke arah Den Haag Café. Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi. Saya jadi teringat kata-kata Kartini tadi pagi.

Kami duduk di bangku di pojok ruangan. Nyonya Abendanon masih memegang ipet saya. Ia asyik betul dengan sabak1 modern itu. Tiba-tiba Nyonya Abendanon mengamati wajah saya, kemudian matanya menatap ke layar ipet. Begitu berulang-ulang. lanjutkan baca

Buku ketiga saya berjudul Giliran Petruk Jadi Presiden

Mari belajar politik dari kisah wayang.

Wayang memang tak bisa lepas dari dunia politik. Pagelaran lakon wayang penuh dengan pelajaran ilmu politik dalam arti yang luas. Ada intrik untuk mendapatkan kekuasaan, mengalahkan lawan, bahkan menyusun tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Seperti ilmu yang lain, ilmu politik pun demikian. Jika dimanfaatkan dengan salah ia akan menghancurkan dan jika dimanfaatkan dengan benar ia akan menyejahterakan.

Di dalam kisah perwayangan, ada tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari perkara perpolitikan kekuasaan. Ia hidup sepanjang zaman, bahkan hingga sekarang. Ia bernama Sengkuni.

Suatu ketika, Prabu Destarasta ingin menghadiahi anak-anak Pandu hamparan tanah yang cukup luas untuk mendirikan sebuah kerajaan. Semenjak Pandu mangkat, dan ia menjabat sebagai raja Hastinapura, otomatis anak-anak Pandu yang berjumlah lima orang yang semuanya lelaki itu di bawah pengasuhannya. Untuk merealisasikan keinginannya itu Prabu Destarasta meminta pendapat patihnya, Sengkuni. lanjutkan baca

Buku kedua saya berjudul Srikandi Ngedan

Persentuhan saya dengan dunia wayang dikenalkan oleh orang tua saya. Hanya sekedar senang saja menonton pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Setidaknya, saya pernah beberapa kali menyaksikan aksi dalang terkenal Ki Anom Suroto atawa Ki Manteb Sudarsono memainkan wayang kulit. Saya ingat betul bagaimana ibu saya akan membangunkan saya ketika adegan goro-goro dimulai, sebab pada adegan ini banyak hal lucu yang terjadi dalam dialog para Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Esensi cerita wayang sendiri baru saya pahami ketika saya berada di bangku SMA. lanjutkan baca