Asmarani datang dari Salatiga

Sampai sekarang saya masih memburu novel Pak Suparto Brata yang berjudul Trem. Bahkan sampai ke pasar loak, tapi saya belum mendapatkannya.

Siapa itu Suparto Brata? Ia penulis kelahiran Surabaya tahun 1932 yang hingga saat ini masih sangat produktif menulis dan menerbitkan novel. Saya suka sekali membaca novel-novel Pak Brata, baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa Jawa.

Tokoh dalam novel-novel karya Pak Brata diceritakan secara detil, sehingga saya kadang ikut terlarut ke dalam perasaan si tokoh. Satu hal yang tidak pernah ditinggalkan Pak Brata dalam setiap bukunya yaitu menyampaikan pesan betapa pentingnya membaca buku dan menghargai sastra. Dengan membaca wawasan akan terbuka semakin luas, dan dengan sastra akan membentuk budi pekerti yang baik. lanjutkan baca

Bersama Kartini di 2014#3

Saya kembali dari toilet, di lobby hotel sudah ada ketiga puteri Jepara yang sedang ngobrol bareng Nyonya Abendanon. Saya bermaksud pamitan, karena tugas saya sudah selesai mengantar trio puteri Adipati Jepara dengan selamat bertemu dengan orang yang dituju sesuai pesan RMA Sosroningrat.

Tapi Kartini menahan maksud saya dan mengajak saya mengudap snack dan ngopi-ngopi dulu. Kami berjalan ke arah Den Haag Café. Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi. Saya jadi teringat kata-kata Kartini tadi pagi.

Kami duduk di bangku di pojok ruangan. Nyonya Abendanon masih memegang ipet saya. Ia asyik betul dengan sabak1 modern itu. Tiba-tiba Nyonya Abendanon mengamati wajah saya, kemudian matanya menatap ke layar ipet. Begitu berulang-ulang. lanjutkan baca

Buku ketiga saya berjudul Giliran Petruk Jadi Presiden

Mari belajar politik dari kisah wayang.

Wayang memang tak bisa lepas dari dunia politik. Pagelaran lakon wayang penuh dengan pelajaran ilmu politik dalam arti yang luas. Ada intrik untuk mendapatkan kekuasaan, mengalahkan lawan, bahkan menyusun tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Seperti ilmu yang lain, ilmu politik pun demikian. Jika dimanfaatkan dengan salah ia akan menghancurkan dan jika dimanfaatkan dengan benar ia akan menyejahterakan.

Di dalam kisah perwayangan, ada tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari perkara perpolitikan kekuasaan. Ia hidup sepanjang zaman, bahkan hingga sekarang. Ia bernama Sengkuni.

Suatu ketika, Prabu Destarasta ingin menghadiahi anak-anak Pandu hamparan tanah yang cukup luas untuk mendirikan sebuah kerajaan. Semenjak Pandu mangkat, dan ia menjabat sebagai raja Hastinapura, otomatis anak-anak Pandu yang berjumlah lima orang yang semuanya lelaki itu di bawah pengasuhannya. Untuk merealisasikan keinginannya itu Prabu Destarasta meminta pendapat patihnya, Sengkuni. lanjutkan baca