Buku saya akan terbit lagi

The Padeblogan sempat terbengkalai akhir-akhir ini, meskipun saya biarkan tak ada postingan baru ternyata jumlah kunjungan rata-rata per hari masih di atas 600. Ini gara-gara ada tayangan Mahabharata di ANTV yang diputar saban malamnya, mayoritas pengunjung The Padeblogan mengarah ke WayangSlenco – sepertinya – mencari informasi sepak terjang Arjuna. Dan yang mereka dapatkan di The Padeblogan pasti meleset dari angan-angan mereka, sebab wayang di The Padeblogan dikemas oleh dalang antik.

Sesungguhnya saya ndak memposting sebuah tulisan di The Padeblogan karena sedang disibukkan menyiapkan buku-buku yang akan segera saya terbitkan. Dalam waktu dekat, buku yang akan terbit lumayan tebal, judulnya masih saya rahasiakan. Tetapi saya akan membocorkan sedikit prosesi penyiapan penerbitan buku tersebut.

***

Arkian, saya tertarik kepada ilmu titen para petani kita zaman dulu dalam memulai masa tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, yakni pengaturan waktu musim yang dipakai sebagai patokan dalam mengolah lahan pertanian. Pada akhir abad 19, Kanjeng Sinuhun PB VII memerintahkan agar Pranata Mangsa tersebut dibakukan dan dibukukan. lanjutkan baca

Leo Tolstoi, novelnya banyak dibaca di dunia

Leo Tolstoi (9 Sept 1828 – 20 Nov 1910) adalah pujangga besar Rusia bernama lengkap Lev (Leo) Nikolayevich Tolstoi terkenal terutama karena novel epik sejarahnya, Voina i Mir (Perang dan Damai) mengenai perlawanan rakyat Rusia terhadap invasi Napoleon pada tahun 1812. Di dalam perlawanan itu kaum bangsawan dan rakyat biasa bahu membahu membela tanah airnya. Namun, karya Tolstoi yang paling luas dibaca dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing adalah novelnya yang kedua, Anna Karenina, yang menyoroti kehidupan pribadi kaum bangsawan dan golongan high society Rusia pada zamannya.

Tolstoi dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah golongan ningrat, karena itulah ia bisa menggarap tema novel itu dari sudut pandang orang dalam. Beberapa anggota keluarganya tercatat dalam sejarah Rusia sejak abad ke-16, bahkan ayahnya Graf (Comte) Nikolai Ilyich Tolstoi ambil bagian dalam perang melawan Napoleon pada 1812-1814 dengan pangkat letnan kolonel. lanjutkan baca

Pewaris tahta Sultan

Judul: Noto: Tragedi, Cinta dan Kembalinya Sang Pangeran • Penulis: Prijono Hardjowirogo • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Juli 2014) • Tebal: 325 halaman

Dalam sekejap Noto menjadi anak yatim piatu, pasalnya rumahnya ter(di)bakar orang tak dikenal. Noto dapat diselamatkan oleh bapaknya setelah dilempar dari dalam rumah yang terbakar tersebut, sementara bapak dan ibunya tak sempat menyelamatkan diri. Dari Boyolali, Noto yang baru lulus SD itu berjalan kaki ke Solo untuk mencari rumah kerabatnya. Setting waktu: Indonesia sedang ada ontran-ontran Gestok 1965.

Noto ngenger pada keluarga Den Sostro seorang ningrat dari Keraton Surakarta. Noto sendiri diopeni oleh Giman dan Waginah, pembantu di rumah Den Sostro. Jika semula ketika masuk SMP ia dipandang sebelah mata oleh kepala sekolah, belakangan Noto ternyata anak yang sangat cerdas terutama di bidang matematika. Kepandaiannya membuat terkesima guru matematikanya.

Encer betul otak Noto, maka tak sulit baginya mengikuti pelajaran di sekolah. Bahkan pada suatu kesempatan mendatangi Keraton Surakarta, ia menunjukkan kemahirannya menari Jawa halus mengikuti para puteri keraton yang sedang belajar menari. Ia akhirnya nanti menjadi murid sekolah sendratari di keraton.

Di sana ia berkenalan dengan Yanti, anaknya Pangeran Anggoro atau cucu dari Ngarso Dalem penguasa Keraton Surakarta. Noto yang dianggap bukan berdarah biru tidak disenangi oleh Pangeran Anggoro. lanjutkan baca