Jangan gori

Salah satu sayur yang saya suka di masa kecil dulu adalah jangan gori. Orang Jawa menyebut sayur dengan istilah jangan, misalnya jangan tahu berarti tahu yang dibuat sayur, jangan loncon berarti sayur bening, jangan kangkung artinya sayur (berbahan utama) kangkung, jangan bobor (sayur bobor), jangan asem ya sayur asem, dan sebagainya. Lalu, bagaimana dengan jangan gori?

Gori sebutan untuk nangka muda. Jangan gori berarti sayur nangka muda. Makan siang dengan jangan gori dengan nasi masih kebul-kebul dan berlauk gêrèh/ikan asin plus karak, wis jian… rasanya surga dunia. Kalau mau mewah sedikit dengan ikan bandeng! Semakin wayu jangan gori tersebut, kok semakin enak saja ya? Wayu berarti mendekati expired, artinya sayur tersebut makin enak jika dimakan malam harinya atawa besok paginya untuk sarapan. Tentunya, jangan gori tersebut harus dipanasi dulu. read more

Piknik

Sudah menjadi kebiasaan di SMP-ku dulu, jika selesai ujian kelulusan diadakan piknik yang diikuti oleh anak-anak kelas 3. Rencana piknik tersebut sudah disinggung oleh Wali Kelas saat membagikan rapor semester sebelumnya kepada orang tua/wali murid. Tempat tujuan piknik saat itu ke Pantai Pangandaran. Cukup jauh dari kotaku yang berada di lereng G. Lawu.

Seminggu sebelumnya, aku sudah memberitahu ibu kapan paling lambat membayar biaya piknik. Jawaban ibu menenteramkan hatiku. Katanya, aku bisa mendaftar jadi peserta piknik.

Tiga hari sebelum batas waktu pembayaran biaya piknik datang pamanku menemui ibu. Saat itu aku masih di sekolah. Ketika pulang sekolah aku dapati paman masih di rumah, rupanya menunggu kepulanganku dari sekolah. read more

Bulik

Bulik adalah ibuku kedua. Siapa bulik? Ia adalah adik perempuan ibuku. Ia mulai ikut ibuku ketika aku berumur setahunan dan ibuku mengandung adikku. Aku tak tahu persis, apakah Bulik tinggal bersama kami itu karena keinginannya sendiri atawa diminta oleh ibu atawa nenekku.

Selama tinggal bersama kami, Bulik juga bersekolah di SPG, Sekolah Pendidikan Guru setingkat SMA dipersiapkan untuk guru SD. Bulik tinggal bersama kami hanya tiga tahun saja, karena setelah ia lulus SPG ia ditempatkan sebagai guru SD di sebuah sekolah dasar di pelosok kabupaten.

Bulik adalah ibuku kedua. Menurut cerita ibu, saban hari aku diasuh oleh Bulik, mulai dari mandi dan menyuapiku. Juga menuntunku ketika aku belajar berjalan. Ingatanku untuk penggalan kejadian tersebut susah aku panggil dari otakku. Tapi aku yakin dan percaya dengan cerita ibu itu. read more