Rapor

Urusan sekolah anak-anaknya, ibu lebih tahu detil dibanding bapak. Peran bapak menyediakan dana dan tanda tangan rapor anak-anaknya, sedangkan ibu lebih dari itu. Ia bahkan hapal dengan nama teman-teman sekelasku. Jika aku memerlukan sebuah buku misalnya, aku akan bilang ke ibu. Apakah nanti dibelikan atawa tidak, urusan belakang.

Perkara belajar atawa mengerjakan PR ibu tak perlu repot-repot menyuruhku, karena menurutku, tugas anak sekolah itu ya belajar. Dan aku juga tahu diri, di sekolah aku tak berprestasi sehingga perlu banyak belajar.

Sering kali bapak dan ibu bilang kalau mereka tak bisa mewarisi harta-benda, hanya memberi ilmu dengan cara menyekolahkan anak-anaknya sampai bangku kuliah. Dan itu terlaksana. read more

Jujur

Sebagai keluarga yang bermahzab Islam abangan – baca: belum menjalankan ajaran Islam secara kaffah, ibu selalu menasihatkan kepadaku untuk berbuat baik. Konsep pahala dan dosa atawa surga dan neraka, tak pernah sekalipun disinggungnya. Hanya: boleh dan tidak boleh. Boleh berarti melakukan perbuatan baik, tidak boleh berarti melakukan suatu perbuatan yang merugikan orang lain. Sangat lugas.

Bagaimana tidak disebut Islam abangan? Menjalankan syariat Islam saja masih pilih-pilih, belum dilaksanakan dengan totalitas. Contoh sederhananya seperti shalat belum bisa tepat waktu, menjalankan puasa masih terbatas puasa wajib, baca Quran belum tentu seminggu sekali, dan masih banyak lagi. Masih jauh dari sunah Kanjeng Nabi.

Satu hal lagi yang dinasihatkan ibu adalah jujur. Tak sepenuhnya aku bisa melaksanakan nasihat yang satu ini, karena sadar atawa tidak aku sering tidak jujur kepadanya. Tapi itulah ibu, pasti ia tahu kalau anaknya tidak jujur ketika ia mengajukan suatu pertanyaan dan aku jawab. Mungkin ia membaca dari raut muka atawa sinar mataku. Sebetulnya, semua itu aku lakukan untuk tidak membuatnya sedih. Misalnya saat aku kuliah dulu. Ibu mengirimkan uang bulanan yang jumlahnya tak seberapa itu, lalu ia bertanya apakah uang yang ia kirimkan cukup untuk sebulan? Tentu saja aku jawab cukup. read more

Nonton

Seingatku, tiga atawa paling banyak empat kali ibu pernah mengajakku nonton pagelaran wayang kulit. Tempatnya tak jauh dari rumah: di rumah tetangga yang kebetulan ada hajatan dan di pendapa kabupaten. Kenangan yang masih menempel di otak saya ketika nonton wayang di pendapa kabupaten dengan dalang Ki Anom Suroto. Lakon yang dimainkan apa, aku lupa. Dan aku juga lupa dalam rangka apa pagelaran wayang ini: untuk memeriahkan HUT kemerdekaan RI atawa kampanye partai beringin.

Pendapa kabupaten tak jauh dari rumah, hanya sepelemparan sandal saja. Jadi, untuk menuju ke tempat pagelaran wayang tak perlu buru-buru. Babak Limbuk-Cangik tentu saja masih aku nikmati dengan mata segar karena sosok ibu-anak yang lucu itu muncul sebelum mataku mengantuk. Apalagi banyolan-banyolan yang dilontarkan pak dalang membuat suasana makin meriah.

Ketika mataku mulai mengantuk aku rebahkan kepala di kaki ibu. Sebelumnya aku berpesan supaya dibangunkan ketika adegan Goro-goro dimulai. read more