Tak suka Penjas

Waktu zaman sekolah dulu, mata pelajaran yang paling tidak saya sukai adalah Pendidikan Jasmani (saya lupa istilah mata pelajaran zaman SMP atawa SMA dulu, kalau zaman SD hanya disebut sebagai pelajaran Olah Raga). Dalam satu minggu, paling tidak harus memakai pakaian training dua kali yakni pas pelajaran olah raga dan untuk senam di hari Jumat.

Dulu senam wajib hari Jumat bernama SKJ, senam kesegaran jasmani, semua murid tanpa kecuali senam bersama-sama di halaman sekolah. Pak Guru olah raga berkeliling untuk memastikan semua murid mengikuti gerakan sesuai irama musik yang distel melalui tep-rekorder. Selesai senam istirahat sejenak sebelum dimulai pelajaran kedua. Tak jarang kelas ambune ting klenyit,  bau keringat khas anak-anak yang beranjak remaja. read more

Ical

Sebagai seorang pensiunan, kegiatan Mbah kakung saya beternak ayam dan merawat pohon cengkeh yang jumlahnya tak lebih dari sepuluh batang. Suatu hari saya dimintanya membeli pakan ternak dan dua macam obat di sebuah poultry shop. Mbah Kakung memberikan saya catatan nama obat dan selembar uang. Karena jaraknya jauh, saya mengendarai sepeda jengki milik Mbah Kakung, sementara kertas catatan dan uang saya masukkan celana pendek saya.

Olala, sampai di Omega Poultry Shop – nama toko pakan ternak dan obat-obatan berbau bahasa Inggris ini letaknya di tetangga desa – saya merogoh seluruh kantong celana pendek untuk mendapatkan uang dan catatan Mbah Kakung. Tidak ketemu. Mas Rasidi – owner Omega Poultry Shop, cuma terbengong-bengong menyaksikan ulah saya. read more

Djarum 76

Saya akan mencoba memanggil kenangan masa kecil dari memori otak saya, bersama bapak yang biasa kami panggil dengan sebutan Pak’e.

Menurut penilaian saya, bapak itu orangnya serba bisa. Pendiam namun maunya selalu bergerak, tandang gawe ini-itu. Rumah papan yang kami tempati dulu sebagian besar hasil karya bapak – tentu saja dalam pengerjaannya dibantu orang para tukang, artinya ia sendiri yang turun tangan mulai mengukur, menggergaji dan menempelkan papan pada tiang-tiang kaso. Kami, anak-anaknya, hanya melihat bagaimana bapak bekerja sesekali membantu mengambilkan martil, catut atawa paku yang jauh dari tempat bapak bekerja. read more