Jarik

Ada dua sumber pembiayaan yang menjadi andalan ibuku, yakni organisasi PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) tingkat RT – sebuah organisasi untuk memberdayakan peran perempuan untuk kesejahteraan keluarga yang lahir di zaman Orde Baru dan Pegadaian. Sebagai ibu rumah tangga sejati, ia harus pandai-pandai memutar, mengatur, menutup, mengeluarkan dan mengendalikan keuangan keluarga yang jumlahnya sangat minim itu. Maklum saja, bapakku hanya PNS golongan IIA.

Tapi itulah kehebatan ibu. Meskipun punya pinjaman di mana-mana ia pandai mengaturnya. Tak pernah sekalipun aku dengar ada orang mencak-mencak menagih hutang ke ibuku. Semua dibayar tepat waktu. Orang bilang sih, gali lubang tutup lubang tetapi tak pernah terperosok dalam lubang yang digalinya itu. read more

Tetak

Malam itu aku demikian gelisah. Minyak lampu teplok yang tergantung di bilik kamarku telah habis terserap oleh sumbunya, redup sinarnya. Sebentar lagi gulita. Jantungku terasa makin cepat genjotannya, ketika fikiran membayangkan betapa ngerinya penyiksaan esok hari. Ya, aku akan dibantai atawa tepatnya dipenggal!

Azan subuh terdengar sayup-sayup ditingkahi dengan kokok ayam jago yang bersahut-sahutan dari penjuru kampung. Aku baru saja terlelap, tetapi sepasang tangan kekar telah menarik selimut dan menyeretku keluar kamar.

“Cepat siapkan drumnya… isi dengan air!” perintah si tangan kekar kepada orang di sebelahnya. Aba-aba selanjutnya ditujukan kepadaku.

“Ayo, lepas semua pakaianmu dan masuk ke dalam drum ini,” gertaknya.

Ketakutanku malah menambah dinginnya pagi itu. Aku menuruti perintahnya, masuk ke drum yang tingginya hampir sama dengan tinggi badanku. Gigi-gigiku gemeretak sebagai respon mulai membekunya syaraf-syaraf di sekujur tubuh. read more

45 tahun

Saya ingin menceritakan tentang Bapak dan Ibu saya. Mereka mengikat janji di depan penghulu setahun setelah ontran-ontran PKI di negeri ini. Dari perkawinan itu lahirlah empat anak laki-laki, di mana saya anak pertamanya.

Seingat saya, sejak dulu bapak kalau memanggil ibu dengan sebutan ‘bu’ (mungkin sebelum saya lahir, ibu dipanggilnya dengan sebutan ‘dik’), sementara ibu kalau memanggil bapak dengan sebutan ‘mas’, hingga sekarang. Sementara, kami, anak-anaknya, memanggil bapak dengan sebutan Pak’e dan untuk ibu kami memanggil dengan sebutan Bu’e.

Di rumah, Pak’e pendiam, dalam arti jarang berbicara. Lebih banyak kerja. Sikap pendiam ini yang sering membuat kami sungkan dan takut untuk minta sesuatu kepadanya. Misalnya, di sekolah harus beli ini-itu atawa meninginkan suatu permainan, maka kami mengandalkan peran Bu’e untuk meneruskan permintaan kami kepada Pak’e. Kalau pun Pak’e tidak mengabulkan permintaan kami atawa menunda karena belum gajian, pesan itu akan disampaikan melalui Bu’e. O, iya. Pak’e adalah seorang PNS golongan II, sementara Bu’e sebagai manager rumah tangga.

Diam-diam Pak’e pernah memotong papan kayu sengon untuk dibuat empat pistol mainan, diamplas, lalu dicat hitam. Keempat pistol mainan itu diberikan kepada kami, sehingga kami bisa bergabung dengan teman-teman kami bermain tembak-tembakan.

Komunikasi seperti itu, berlangsung hingga kami semua lulus sekolah. Setelah kami berkeluarga, ngobrol dengan Pak’e menjadi sering kami lakukan misalnya pada saat mudik lebaran atawa ketika Pak’e dan Bu’e berkunjung ke rumah kami.

Bu’e memang manager rumah tangga yang hebat. Pak’e masuk masa pensiun ketika keempat anak lelakinya masih duduk di bangku kuliah. Kami semua bisa diwisuda. Untuk bisa membantu mereka, kami kuliah nyambi ikut proyek dosen. Upaya lain, kami mengajukan keringanan SPP kepada Pak Rektor, karena kebetulan kami berempat kuliah di universitas yang sama. Lumayan, oleh Pak Rektor diberi diskon 50% SSP dua semester.

Meskipun jarang bicara, Pak’e selalu mengajari kami dalam pekerjaan laki-laki, seperti pekerjaan tukang (kayu/batu), instalasi listrik atawa mekanik. Bangunan rumah yang sekarang ditempati Pak’e dan Bu’e masih ada bau keringat kami, termasuk sebuah sumur yang kami gali secara bergotong royong.

Sementara itu, Bu’e mengajari kami pekerjaan rumah tangga, bahkan berbelanja bahan makanan yang akan dimasak hari itu. Bu’e membekali kami dengan secarik kertas berupa daftar belanjaan. Daftar ini kami berikan kepada pemilik warung, lalu mendapatkan barang belanjaan. Sebelum kami pulang, pemilik warung mencatat jumlah belanjaan di buku kecil dan menitipkan pesan kepada kami jumlah belanjaan hari itu.

Di hari lebaran kemarin, Bu’e menyinggung cerita di atas itu dan terlontar permintaan maafnya kepada anak-anaknya yang disampaikan melalui saya. Kata Bu’e semestinya ia sendiri yang membawa catatan itu.

Kewajiban kami sekarang adalah membahagiakan mereka berdua, bukan (lagi) membebani tenaga dan pikiran mereka. Alhamdulillah, tahun 2006 lalu kami memberangkatkan mereka naik haji dan beberapa bulan lalu melunaskan keinginan mereka berkunjung ke rumah Kanjeng Nabi.

Semoga Gusti Allah selalu memberkahi mereka dengan keselamatan, kesejahteraan, kesabaran dan kesehatan. Amiin.