E-mail Kiriman Kartini: Simpati untuk Kasus Prita Mulyasari

Ibunya Kartini: “nDuk, apakah kamu tidak capek dan bosan menulis surat kepada temanmu si Estella Zeehandelaar itu, yang kamu kirimkan melalui pos. Kenapa kamu tidak menggunakan e-mail saja, lebih cepat dibaca dan ditanggapi oleh sahabatmu dari seberang lautan sana. Atau yang lagi ngetren sekarang ini, main blog dan pesbuk. Kan kumpulan tulisan kamu bisa dibaca oleh dunia”

Mari sejenak mengenang Kartini, bukan dengan berpakaian kebaya lengkap dengan sanggulnya tetapi alihkan pikiran pada bagaimana cara Kartini melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun.

Kartini menuliskan segala perasaannya yang tertekan itu, kemudian ia komunikasikan dengan sahabat-sahabat Eropanya saat itu. Dan hasilnya sungguh luar biasa, selain melambungkan nama Kartini, suaranya bisa terdengar sampai jauh, sampai ke negeri asal dan akar kehancuran manusia pribumi nusantara. lanjutkan baca

Bedah Rumah: Menjual Kemiskinan?

Tayangan Bedah Rumah RCTI yang sekarang, lebih menjual kemiskinan dibandingkan seri Bedah Rumah tahun sebelumnya. Ada seorang penjual gado-gado yang telah ditinggal mati suaminya sehingga dia harus berjuang menghidupi dua anaknya.

Untuk memasak sehari-hari menggunakan kayu bakar yang didapatkan dari ranting-ranting yang ada di kebun karena dia tidak mampu membeli kompor dan minyak tanah. Begitu miskinnya, makan malam dengan lauk sisa jualan gado-gado siang harinya yang tidak habis terjual. Mereka bertiga anak beranak tadi tidur di kamar seadanya dalam satu balai. Oh ya, anak-anak belajar di lantai dengan penerangan seadanya. Sesuai skenarionya, di saat rumah direnovasi penghuni rumah akan diungsikan di hotel berbintang dan makan malam di restoran. Mulai adegan naik mobil, penyambutan reception hotel, masuk kamar dan makan dengan diner set yang lengkap sengaja dipertontonkan. Adegan yang memperlihatkan bahwa jurang kaya dan miskin begitu lebar dan dalamnya. lanjutkan baca

Apakah sah, permen dipakai sebagai alat pembayaran? Dan apakah satu permen yang dipakai sebagai alat tukar transaksi jual beli itu benar-benar seharga 100 rupiah?

Untuk ke sekian kalinya, saya dibuat sebal ketika berbelanja di minimarket Maret dan Mart : diberi uang kembalian berupa permen. Modusnya begini. Misalnya uang kembalian sebesar 1600 rupiah. Kita akan diberi uang kembalian sebesar 1 ribuan 1 lima ratusan dan 1 buah permen. Jadi, 1 permen dihargai setara 100 rupiah.

Suatu saat, permen sebagai uang pengembalian sudah terkumpul 10. Iseng-iseng permen tersebut saya pergunakan sebagai alat pembayaran, dan ternyata ditolak oleh kasir. Terjadi perdebatan dan hasilnya bisa diketahui, saya sebagai konsumen terpaksa harus ngalah. Sejak kejadian itu, saya menolak kalau diberi uang pengembalian berupa permen. Hitung-hitung dalam hati, biarlah minimarket itu yang mempunyai “hutang” ke saya (soalnya saya minta dicatat sebagai deposit mereka tidak mau). Pengalaman saya ini, bisa jadi satu dari sekian ratus kasus yang pernah dikeluhkan konsumen di beberapa surat pembaca di media massa. lanjutkan baca