Apakah sah, permen dipakai sebagai alat pembayaran? Dan apakah satu permen yang dipakai sebagai alat tukar transaksi jual beli itu benar-benar seharga 100 rupiah?

Untuk ke sekian kalinya, saya dibuat sebal ketika berbelanja di minimarket Maret dan Mart : diberi uang kembalian berupa permen. Modusnya begini. Misalnya uang kembalian sebesar 1600 rupiah. Kita akan diberi uang kembalian sebesar 1 ribuan 1 lima ratusan dan 1 buah permen. Jadi, 1 permen dihargai setara 100 rupiah.

Suatu saat, permen sebagai uang pengembalian sudah terkumpul 10. Iseng-iseng permen tersebut saya pergunakan sebagai alat pembayaran, dan ternyata ditolak oleh kasir. Terjadi perdebatan dan hasilnya bisa diketahui, saya sebagai konsumen terpaksa harus ngalah. Sejak kejadian itu, saya menolak kalau diberi uang pengembalian berupa permen. Hitung-hitung dalam hati, biarlah minimarket itu yang mempunyai “hutang” ke saya (soalnya saya minta dicatat sebagai deposit mereka tidak mau). Pengalaman saya ini, bisa jadi satu dari sekian ratus kasus yang pernah dikeluhkan konsumen di beberapa surat pembaca di media massa. lanjutkan baca

Filosofi Gombal

Gombal itu kain lap yang berasal dari pakaian bekas, bisa baju, kaos, celana dalam, atau sarung. Setiap orang membutuhkan sebuah gombal. Maka tidak heran, peran gombal di dalam kehidupan manusia beradab sungguh besar. Tengoklah di bawah jok sepeda motor Anda, di sana ada gombal yang tiap pagi selalu dipakai untuk mengelap motor. Atau di pojok dapur, akan ditemui banyak gombal karena di tempat ini perlu banyak gombal untuk membersihkannya. Lalu, di atas rak sepatu. Ada sepotong gombal untuk melicinkan sepatu setelah diolesi semir. Dan masih banyak tempat lagi yang memerlukan peran gombal.

Meskipun jasanya banyak sekali, nilai gombal akan turun drastis bahkan berkonotasi negatif jika dia masuk dalam sebuah kalimat atau frase kata. lanjutkan baca

Terawangan Klenik Pemenang Pilpres 2009

Di ruang praktek mBah Ndobos Wiseso, dukun klenik dari kampung sebelah.

“mBah, mbok saya diitungkan siapa yang bakal menang di pilpres nanti,” kata pasien pasien langganan.
“Urusanmu apa, dengan pilpres nanti,” mbah dukun ganti bertanya.
“Anu mbah… saya mau ikut totohan sama teman. Lumayan, 5 juta dapatnya nanti,” jawab pasien langganan.
“Aku nanti minta separoh ya,” kalimat mbah dukun membuka negosiasi.
Nggih sampun, kula pasrah bongkokan mawon,” akhirnya pasien langganan setuju dengan permintaan mbah dukun.

mBah Ndobos Wiseso segera mengambil kertas dan menuliskan nama-nama capres-cawapres yang akan bertanding nanti. Antara huruf satu dan lainnya ditulis agak renggang. Pasien langganan dengan cermat mengamati tulisan di atas kertas.

“Ayo, sekarang kita mulai. Huruf A dihargai nilai 1, B=2, dan seterusnya sampai Z= 26 ya,” kata mbah dukun sambil coret-coret kertas. Ini hasilnya.

MEGAWATI SOEKARNOPUTRI + PRABOWO SUBIYANTO = (13+5+7+1+23+1+20+9+19+15+5+11+1+18+14+15+16+21+25+18+9) + (16+18+1+2+15+23+15=19+21+2+9=25+1+14+20+15) = 482
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO + BOEDIONO = (19+21+19+9+12+15+2+1+13+2+1+14+7+25+21+4+8+15+24+15+14+15) + (2+15+5+4+9+15+14+15) = 355
JUSUF KALLA + WIRANTO = (10+21+23+21+6+11+1+12+12+1) + (23+9+18+1+14+20+15) = 218

“Yesss!!! MegaPro akan menang!” teriak pasien langganan.
Ojo seneng dhisik, itungan ini belum selesai,” kata mbah dukun kalem, “Angka-angka ini belum dikalikan dengan nomor urut mereka”.

482 X 1 = 482
355 X 2 = 710
218 X 3 = 654

“Waduh, kok yang tengah yang menang ya mbah?” tanya pasien langganan keheranan.
Yo, embuh!!! Tapi cocok dengan hasil survey yang katanya pesanan itu toh?” jawab mbah dukun sambil menghisap Djarum Coklat.

Note :
totohan = taruhan
Nggih sampun, kula pasrah bongkokan mawon = ya sudah, saya ngikut saja
Ojo seneng dhisik = jangan senang dulu
Yo, embuh = ya, nggak tahu