Ora Kanggo

Delapan bulan lalu, saya meletakkan jabatan yang cukup vital dalam organisasi yang ikut saya besarkan selama hampir sembilan tahun ini. Perbedaan prinsip yang membuat hati saya gundah, tersiksa dan menguras pikiran sampai kering kerontang, menjadi penyebabnya. Saya tidak enjoy lagi mengurus salah satu “anak” kesayangan saya itu. Selanjutnya,¬†saya menghilang dari peredaran dan pergaulan mereka sebagai orang yang ora kanggo, tidak terpakai.

Seorang sarjana, baru lulus S2 mengajukan surat lamaran kerja. Ah, di situasi krisis global seperti ini siapa yang mau membutuhkan tenaganya? Banyak perusahaan mem-PHK karyawannya, alih-alih menerima karyawan baru seperti dia, mempertahankan karyawan yang ada saja sudah bagus. Tidak putus asa, ia mengajukan lamaran ke perusahaan lainnya. Kata personalia : “Boleh saja Anda kerja di perusahaan kami, tapi mau nggak menggunakan ijazah SMA Anda saja?” Rupanya, ijazah S2-nya, ora kanggo.

Di ruang yang lain, ada arsitek idealis merencanakan sesuatu gagasan untuk merombak penampilan kantor, termasuk lay out di dalamnya. Dia stress berat, karena proposalnya selalu ditolak mentah-mentah oleh direkturnya. Mister direktur lebih memilih proposal dari maintenance section : melakukan pengecatan ulang! Ide si arsitek, kandas. Ora kanggo.

Tepat di samping mesin foto kopi, teronggok kertas bekas foto kopian yang jumlahnya lebih dari delapan rim. Pemborosan yang luar biasa. Kertas yang tersia-siakan, ora kanggo.

Sementara itu, di sudut yang lain seorang karyawan yang sudah belasan tahun bekerja di perusahaan, pagi-pagi kebingungan mencari komputer yang hilang dari mejanya. Siang harinya, dia baru paham : dia tidak dibutuhkan lagi oleh perusahaannya. Tenaga dan fikirannya, kini, ora kanggo.

Pernahkah Anda menjadi seorang yang ora kanggo, tidak terpakai atau tidak dibutuhkan?