Saya dan Presiden SBY, SBY-JK, SBY vs JK

Undangan dari Sekretariat Negara saya pegang erat-erat, berulang kali saya baca isinya. Ada rasa senang bercampur terharu. Tanggal 14 Desember 2004, Presiden SBY membuka musyawarah nasional organisasi yang saya ikuti, di Istana Negara. Sama sekali tidak terbayang di benak saya akan masuk ke Istana Negara bertemu presiden pula.

Ketika protokol Istana memberi tahu kalau presiden berkenan untuk memberi ucapan selamat kepada para peserta musyawarah, saya siap-siap maju ke depan untuk bersalaman dengan Presiden SBY. Jas yang saya pakai semakin membuat gerah dan telapak tangan yang berkeringat, bolak-balik saya lap di celana. lanjutkan baca

Senyum si mBak Kok Hilang

Debat Capres semalam terasa garing, tidak ada yang mengejutkan – dan dengan terpaksa saya mematikan TV di tengah acara. Si mBak, yang setiap wawancara di TV selalu saya tunggu : kejutan-kejutan gagasan dan pendapatnya, kepintarannya dalam menjawab suatu pertanyaan, kelucuannya, keceriaannya, kekenesannya, sifat keibuannya, dan yang paling penting bagi saya senyuman manisnya itu. Senyum yang menyejukkan. Semalam, saya tidak mendapatkan itu semua. lanjutkan baca

Bukan Suara Tuhan

Kali ini Ustadz Asnoor  mengajak Kyaine dan mas Budiono bersilaturahmi ke gurunya, di Pondok Pesantren Darussalam di wilayah Pantura. Selain menghadiri pengajian selapanan tiap malam Jumat Wage sekalian tasyakuran menyambut kedatangan putra sang guru yang baru saja pulang dari menuntut ilmu di Kairo Mesir.

Mungkin karena kecapekan, mata Kyaine sering terpejam ketika Kyai Idris memberikan ceramahnya. Acara ditutup dengan makan kenduri, sungguh nikmat. Kyaine hanya sebagai pendengar yang baik, ketika putra Kyai Idris menceritakan pengalamannya di negeri piramida itu dan ia membayangkan alur cerita di novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. lanjutkan baca