Senyum si mBak Kok Hilang

Debat Capres semalam terasa garing, tidak ada yang mengejutkan – dan dengan terpaksa saya mematikan TV di tengah acara. Si mBak, yang setiap wawancara di TV selalu saya tunggu : kejutan-kejutan gagasan dan pendapatnya, kepintarannya dalam menjawab suatu pertanyaan, kelucuannya, keceriaannya, kekenesannya, sifat keibuannya, dan yang paling penting bagi saya senyuman manisnya itu. Senyum yang menyejukkan. Semalam, saya tidak mendapatkan itu semua. lanjutkan baca

Bukan Suara Tuhan

Kali ini Ustadz Asnoor  mengajak Kyaine dan mas Budiono bersilaturahmi ke gurunya, di Pondok Pesantren Darussalam di wilayah Pantura. Selain menghadiri pengajian selapanan tiap malam Jumat Wage sekalian tasyakuran menyambut kedatangan putra sang guru yang baru saja pulang dari menuntut ilmu di Kairo Mesir.

Mungkin karena kecapekan, mata Kyaine sering terpejam ketika Kyai Idris memberikan ceramahnya. Acara ditutup dengan makan kenduri, sungguh nikmat. Kyaine hanya sebagai pendengar yang baik, ketika putra Kyai Idris menceritakan pengalamannya di negeri piramida itu dan ia membayangkan alur cerita di novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. lanjutkan baca

Mas Bowo

Di era 1984-an lalu, saya mempunyai seorang idola namanya Bowo. Dia ini adalah ikon Srimulat di era itu, yang tayang di TVRI Surabaya. Di panggung dia kerap didapuk sebagai seorang batur dan selalu dikuyo-kuyo oleh Bambang Gentolet, yang berperan jadi ndoro kakungnya. Mas Bowo (kini sudah almarhum) memiliki gaya yang khas, yakni bibirnya dibiarkan selalu ngowoh supaya terlihat tambah ndower, karena memang bibir bagian bawahnya tebal dan besar. Dari referensi yang saya baca, mas Bowo ini hidupnya sederhana, bahkan pernah menjadi sopir bemo di Surabaya. Dari hidup di embong karirnya sebagai seniman dimulai dengan membentuk grup lawak Ublik Yunior, sebelum  akhirnya bergabung dengan Srimulat di tahun 1980 sampai tahun 2006. lanjutkan baca