Selamat Berpuasa Ramadhan, Bapak Presiden

Stelan jas hitam sudah saya persiapkan seminggu sebelumnya. Ya maklum saja, jas yang baru saya beli itu akan saya gunakan untuk bertemu orang nomor satu di negeri ini. Setelah masuk laundry menjadi rapi dan Wangi, tentu saja.

Saya pun mempersiapkan diri dengan mulai mereka-reka apa yang akan saya sampaikan kepada Presiden. Saya mencoba menuliskannya di notebook, untuk saya hapalkan supaya ketika berbicara dengan beliau agak lancar, nggak grogi-grogi amat. Pokoknya harus stel pede. Jangan kalah dengan para pengamat politik, yang bicaranya sundul langit ke tujuh itu. lanjutkan baca

E-mail Kiriman Kartini: Simpati untuk Kasus Prita Mulyasari

Ibunya Kartini: “nDuk, apakah kamu tidak capek dan bosan menulis surat kepada temanmu si Estella Zeehandelaar itu, yang kamu kirimkan melalui pos. Kenapa kamu tidak menggunakan e-mail saja, lebih cepat dibaca dan ditanggapi oleh sahabatmu dari seberang lautan sana. Atau yang lagi ngetren sekarang ini, main blog dan pesbuk. Kan kumpulan tulisan kamu bisa dibaca oleh dunia”

Mari sejenak mengenang Kartini, bukan dengan berpakaian kebaya lengkap dengan sanggulnya tetapi alihkan pikiran pada bagaimana cara Kartini melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun.

Kartini menuliskan segala perasaannya yang tertekan itu, kemudian ia komunikasikan dengan sahabat-sahabat Eropanya saat itu. Dan hasilnya sungguh luar biasa, selain melambungkan nama Kartini, suaranya bisa terdengar sampai jauh, sampai ke negeri asal dan akar kehancuran manusia pribumi nusantara. lanjutkan baca

Bedah Rumah: Menjual Kemiskinan?

Tayangan Bedah Rumah RCTI yang sekarang, lebih menjual kemiskinan dibandingkan seri Bedah Rumah tahun sebelumnya. Ada seorang penjual gado-gado yang telah ditinggal mati suaminya sehingga dia harus berjuang menghidupi dua anaknya.

Untuk memasak sehari-hari menggunakan kayu bakar yang didapatkan dari ranting-ranting yang ada di kebun karena dia tidak mampu membeli kompor dan minyak tanah. Begitu miskinnya, makan malam dengan lauk sisa jualan gado-gado siang harinya yang tidak habis terjual. Mereka bertiga anak beranak tadi tidur di kamar seadanya dalam satu balai. Oh ya, anak-anak belajar di lantai dengan penerangan seadanya. Sesuai skenarionya, di saat rumah direnovasi penghuni rumah akan diungsikan di hotel berbintang dan makan malam di restoran. Mulai adegan naik mobil, penyambutan reception hotel, masuk kamar dan makan dengan diner set yang lengkap sengaja dipertontonkan. Adegan yang memperlihatkan bahwa jurang kaya dan miskin begitu lebar dan dalamnya. lanjutkan baca