F-P-V: Kumaha Aing

Pada suatu siang, di sebuah kelas 9 SMP Haurkoneng. Saat itu sedang berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. Sudah menjadi kebiasaan Ibu Yuyun Yunengsih, sebelum mengajar membuka buku absensi dan memanggil nama muridnya satu persatu. Hari itu hanya Idah Roidah yang tidak masuk karena sakit.

“Kalian buka halaman dua puluh tujuh, di situ tertulis menjelaskan alur dari sinofsis nopel. Sudah ketemu semua?” Ibu Yuyun Yunengsih membuka pelajaran.

“Sudaaahhhhh!!!” anak-anak serentak menjawab.

“Tentunya  kalian pernah membaca nopel yang kamu sukai bukan? Kalian tentu dapat menjelaskan tokoh yang kamu sukai. Lalu bagaimana cara menjelaskan alur dalam nopel tersebut?” tanya Ibu Yuyun Yunengsih.

Kelas diam. Ibu Yuyun Yunengsih kembali melanjutkan kalimatnya.

lanjutkan baca

Strategi Jitu Dari Pantura

Pulang dari memantau pendistribusian hewan kurban, Ustadz Asnoor, Kyaine, Budiono dan Jamhuri mampir di sebuah warung makan di daerah Patrol Indramayu. Saat itu jalan Pantura relatif sepi, arus mudik sudah terjadi hari kemarinnya. Mereka memesan nasi rames plus teh botol.

Tidak lama setelah mereka memesan makanan, datang truk container 20 feet parkir di depan warung. Sopir truk mengambil tempat duduk tidak jauh dari mereka berempat. Dia memesan soto ayam dan kopi susu. Sambil menunggu makanan datang, dia menyalakan Djarum Coklatnya. Kopi susu datang, bersamaan dengan kehadiran tiga orang pengendara motor gede.

lanjutkan baca

Matematika Hukum(an)

TEMPO Interaktif, Kediri – Dua petani yang didakwa mencuri semangka di Kediri dipastikan tidak akan menjalani penangguhan penahanan. Mereka juga menjalani persidangan tanpa didampingi kuasa hukum.

Kepala Sub Bagian Pembinaan Kejaksaan Negeri Kediri, Agus Eko Purnomo mengatakan Kholil dan Basar Suyanto, warga Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri yang didakwa melakukan pencurian satu buah semangka tidak didampingi kuasa hukum.

Karenanya tidak ada upaya penangguhan yang disampaikan kepada majelis hakim saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kota Kediri, Selasa (14/11) lalu. “Karena tidak ada pendampingnya, maka tidak ada pengajuan penangguhan,” kata Agus Eko kepada Tempo, Kamis (26/11).

Basar sendiri sempat menyampaikan sikap pasrahnya dalam kasus tersebut. Dia mengaku menyerahkan sepenuhnya persoalan itu kepada jaksa dan pengadilan dengan harapan bisa segera berkumpul dengan anak istrinya. “Pasrah saja biar cepat selesai,” katanya.

Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia Kediri, Nurbaidah menyayangkan sikap tersebut. Menurut dia penangguhan penahanan merupakan hak setiap terdakwa baik didampingi kuasa hukum atau tidak. Karena itu alasan jaksa tersebut tidak dapat diterima. “Itu hak setiap terdakwa tanpa harus melalui penasehat hukum,” katanya.

lanjutkan baca