Arok Dedes: Kudeta ala Jawa untuk Indonesia

Judul Buku  : Arok Dedes • Penulis : Pramoedya Ananta Toer • Penerbit  : Lentera Dipantara, April 2009 • Tebal  : xiii + 561 halaman

Buku Arok Dedes ini akhirnya melengkapi koleksi buku Pram di Ruang Buku Padeblogan. Ketika Arok Dedes ini diterbitkan oleh Hasta Mitra (sampai cetakan ke 5), saya selalu kehabisan buku ini. Lamat-lamat pikiran saya masih ingat ketika baca Arok Dedes ini semasa kuliah dulu, lagi-lagi, dalam bentuk foto kopian pinjam punya teman. Berikut saya sadurkan : Dari Lentera Dipantara halaman vi.

“Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasar bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.” – Pramoedya Ananta Toer –

lanjutkan baca

Hoegeng: Sosok Polisi Jujur

Judul buku : Hoegeng • Penulis : Aris Santosa, dkk • Penerbit : Bentang, April 2009 • Tebal : xvii + 338

Salah satu nasihat Bapak yang masih saya ingat sampai sekarang adalah melarang saya untuk menjadi seorang jaksa, pegawai bea cukai dan polisi. Tiga profesi ini kalau saya nekat melakoninya, Bapak bersikukuh tidak akan memberikan restunya. Saya sangat patuh dengan nasihat tersebut.

Kira-kira sebulan lalu, saya menyaksikan iklan di Metro TV bahwa tayangan Kick Andy tanggal 27 Maret 2009 akan menampilkan tema Tribute to Hoegeng. Hoegeng adalah sosok polisi yang disegani kawan dan lawan, tetapi dicintai banyak orang karena kelembutan dan sikap jujurnya. Dan saya teringat kembali nasihat Bapak, seperti yang saya sebutkan di atas. lanjutkan baca

Tragedi Cinta Budak Homoseks

Judul: Gemblak, Tragedi Cinta Budak Homoseks • Penulis: Enang Rokajat Asura • Penerbit: Edelweiss, 2008 • Tebal: 262 hal

Novel yang beberapa bagiannya ini pernah dipublikasikan dalam cerita bersambung Tabloid Nova ini, memberikan gambaran yang cukup detil mengenai kehidupan seorang warok. Gemblak adalah anak lelaki peliharaan seorang warok untuk mempertahankan kesaktiannya. Tugas utama gemblak adalah melayani kebutuhan seks seorang warok.

Gemblak, jimat dan reyog, tiga hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warok. Penggemblakan merupakan praktek homoseksual yang diterima begitu saja, bahkan diakui oleh sebuah masyarakat di daerah Jawa Timur sebagai bagian tradisi mereka. Tradisi “cabul” semacam ini sepertinya dilegitimasi oleh masyarakat sebagai suatu tradisi yang harus dilestarikan. Contoh lain, misalnya tradisi bukak kelambu bagi seorang ronggeng, yaitu tradisi “memerawani” seorang ronggeng yang masih gadis yang dilakukan dengan cara dilelang, siapa yang berani bayar mahal dialah yang berhak mendapatkan keperawanan si ronggeng (kisah ini diangkat menjadi sebuah novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari). Atau tradisi melakukan “persetubuhan” dengan orang lain di wilayah Gunung Kemukus Sragen untuk mendapatkan berkah dan kekayaan, yang sebenarnya hal itu merupakan bentuk prostitusi terselubung. lanjutkan baca