Senja Jatuh di Pajajaran

Judul: Senja Jatuh di Pajajaran • Penulis: Aan Merdeka Permana • Penerbit: Tiga Serangkai, 2009 • Tebal: 746 halaman

Sub judul Kemelut di Istana Sri Bima merupakan buku 1 dari 3 buku yang direncanakan. Novel ini mengambil latar belakang kerajaan Pajajaran di ambang keruntuhannya, yang saat itu dipimpin oleh Prabu Ratu Sakti (1543 -1551 Masehi). Masuknya pengaruh Islam, menyebabkan terpecahnya wilayah Pajajaran, Kerajaan Cirebon di wilayah timur dan Kerajaan Banten di wilayah barat. Di dalam novel ini Aan Merdeka Permana (AMP) menyebutkan beberapa tarikh, sepintas memang ada kejanggalan tapi ini harus diteliti tersendiri oleh sejarahwan, misalnya menyebutkan peristiwa Perang Bubat 200 tahun sebelumnya, adanya meriam di wilayah jawa sekitar tahun 1500-an dan sebagainya.

Kisah dalam novel ini dimulai dari perjalanan seorang pendekar yang bernama Ginggi, yang selama sepuluh tahun digembleng oleh gurunya Ki Darma Tunggara, menuju ibukota Pakuan Pajajaran. Pesan utama Ki Darma adalah agar Ginggi ikut membela dan menyelamatkan Pajajaran dari kehancuran. lanjutkan baca

Komunikasi Para Presiden Kita

Judul Buku: Dari Soekarno sampai SBY, Intrik & Lobi Politik Para Penguasa • Penulis: Prof. DR. Tjipta Lesmana, MA • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 • Tebal: xxx + 396 hal

Begitu penting faktor komunikasi, keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi. Peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung Tangerang Selatan, telah memaksa presiden dan wakil presiden yang sedang giat-giatnya berkampanye, untuk segera meluncur ke lokasi kejadian dan melakukan komunikasi dengan para korban. Rupanya, dalam tragedi tersebut ada sementara kalangan Caleg /Partai Politik yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu untuk mendapatkan simpati publik.

Melalui komunikasi, pemimpin membangun kepercayaan pada rakyat dan pengikutnya. Kepercayaan merupakan modal utama pemimpin. Jika rakyat percaya pada pemimpinnya, mereka biasanya akan mendukung kebijakan yang diambil oleh pemimpin itu. Pemimpin yang mampu melahirkan kepercayaan besar kemungkinan juga mampu menggalang kerja sama, bahkan dengan unsur-unsur  masyarakat yang selama ini bersikap sinis terhadap kemimpinannya sekalipun. lanjutkan baca

Kerinduan Qays kepada Layla

Bilik Rindu No. 1303 jam 2.12. Telah memuncak kerinduan Qays kepada Layla, kekasihnya. Qays telah kehilangan semangat dan putus asa. Akal sehatnya sudah hilang, sirna pula kesadaran dirinya. Jika sudah demikian, syair indah akan keluar dari bibirnya yang kering.

Wahai angin malam yang dingin sampaikan salam hangatku pada kekasihku Layla! Tanyakan padanya apakah dia masih mau berjumpa denganku? Apakah dia masih memikirkan diriku? Aku terlunta-lunta, sengsara di padang pasir gersang.

Wahai kesegaran pagi yang murni dan indah! Maukah engkau menyanyikan salam rinduku pada kekasihku. Belailah rambutnya yang hitam berkilau, untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku.

Wahai angin, maukah engkau membawakan keharuman rambutnya padaku? Sebagai pelepas rindu. Sampaikan pada wanita yang memikat hatiku itu. Betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya, hingga tak kuat lagi aku menanggung beban kehidupan.

Aku merangkak melintasi padang pasir. Tubuh berbalut debu dan darah menetes. Air mataku pun telah kering, karena meratap dan merindukannya, siang malam.

Duhai semilir angin pagi, bisikkan dengan lembut salamku. Sampaikan padanya pesanku ini : Duhai Layla, bibirmu yang ranum selaksa merah delima, mengandung madu dan memancarkan keharuman surga. Membahagiakan hati yang memandang. Biarkan semua itu menjadi milikku!

Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu. Kecantikanmu menusuk hatiku laksana anak panah, hingga sayap yang sudah patah ini tidak mungkin dapat terbang lagi. Berbagai bunga warna-warni menjadi layu dan mati karena cemburu pada kecantikan parasmu yang bersinar. Engkau laksana dewi malam gelimang cahaya. Surgapun akan tertarik untuk mencuri segala keindahan yang engkau miliki, karena engkau terlalu indah dan terlalu berharga untuk tinggal di bumi!

Duhai Layla, dirimu selalu dalam pandangan. Siang selalu kupikirkan dan malam selalu menghiasi mimpi. Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan kesedihan dan kehancuran.

Jeritanku menembus cakrawala, memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu. Tahukah engkau, tahi lalat di wajahmu itu seperti sihir yang tidak bisa aku hindari. Ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu.

Jiwaku telah tergadaikan oleh pesonamu yang memabukkan, jiwaku telah terbeli oleh gairah dan kebahagiaan cinta yang engkau berikan.

Dan demi rasa cintaku yang mendalam, aku rela berada di puncak salju yang dingin seorang diri, berteman lapar, menahan dahaga. Wahai kekasihku, biarkan pesonamu tetap abadi selamanya di hatiku.

dari Kitab Layla Majnun, sedikit modifikasi