Komunikasi Para Presiden Kita

Judul Buku: Dari Soekarno sampai SBY, Intrik & Lobi Politik Para Penguasa • Penulis: Prof. DR. Tjipta Lesmana, MA • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 • Tebal: xxx + 396 hal

Begitu penting faktor komunikasi, keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi. Peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung Tangerang Selatan, telah memaksa presiden dan wakil presiden yang sedang giat-giatnya berkampanye, untuk segera meluncur ke lokasi kejadian dan melakukan komunikasi dengan para korban. Rupanya, dalam tragedi tersebut ada sementara kalangan Caleg /Partai Politik yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu untuk mendapatkan simpati publik.

Melalui komunikasi, pemimpin membangun kepercayaan pada rakyat dan pengikutnya. Kepercayaan merupakan modal utama pemimpin. Jika rakyat percaya pada pemimpinnya, mereka biasanya akan mendukung kebijakan yang diambil oleh pemimpin itu. Pemimpin yang mampu melahirkan kepercayaan besar kemungkinan juga mampu menggalang kerja sama, bahkan dengan unsur-unsur  masyarakat yang selama ini bersikap sinis terhadap kemimpinannya sekalipun. read more

Kerinduan Qays kepada Layla

Bilik Rindu No. 1303 jam 2.12. Telah memuncak kerinduan Qays kepada Layla, kekasihnya. Qays telah kehilangan semangat dan putus asa. Akal sehatnya sudah hilang, sirna pula kesadaran dirinya. Jika sudah demikian, syair indah akan keluar dari bibirnya yang kering.

Wahai angin malam yang dingin sampaikan salam hangatku pada kekasihku Layla! Tanyakan padanya apakah dia masih mau berjumpa denganku? Apakah dia masih memikirkan diriku? Aku terlunta-lunta, sengsara di padang pasir gersang.

Wahai kesegaran pagi yang murni dan indah! Maukah engkau menyanyikan salam rinduku pada kekasihku. Belailah rambutnya yang hitam berkilau, untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku.

Wahai angin, maukah engkau membawakan keharuman rambutnya padaku? Sebagai pelepas rindu. Sampaikan pada wanita yang memikat hatiku itu. Betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya, hingga tak kuat lagi aku menanggung beban kehidupan.

Aku merangkak melintasi padang pasir. Tubuh berbalut debu dan darah menetes. Air mataku pun telah kering, karena meratap dan merindukannya, siang malam.

Duhai semilir angin pagi, bisikkan dengan lembut salamku. Sampaikan padanya pesanku ini : Duhai Layla, bibirmu yang ranum selaksa merah delima, mengandung madu dan memancarkan keharuman surga. Membahagiakan hati yang memandang. Biarkan semua itu menjadi milikku!

Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu. Kecantikanmu menusuk hatiku laksana anak panah, hingga sayap yang sudah patah ini tidak mungkin dapat terbang lagi. Berbagai bunga warna-warni menjadi layu dan mati karena cemburu pada kecantikan parasmu yang bersinar. Engkau laksana dewi malam gelimang cahaya. Surgapun akan tertarik untuk mencuri segala keindahan yang engkau miliki, karena engkau terlalu indah dan terlalu berharga untuk tinggal di bumi!

Duhai Layla, dirimu selalu dalam pandangan. Siang selalu kupikirkan dan malam selalu menghiasi mimpi. Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan kesedihan dan kehancuran.

Jeritanku menembus cakrawala, memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu. Tahukah engkau, tahi lalat di wajahmu itu seperti sihir yang tidak bisa aku hindari. Ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu.

Jiwaku telah tergadaikan oleh pesonamu yang memabukkan, jiwaku telah terbeli oleh gairah dan kebahagiaan cinta yang engkau berikan.

Dan demi rasa cintaku yang mendalam, aku rela berada di puncak salju yang dingin seorang diri, berteman lapar, menahan dahaga. Wahai kekasihku, biarkan pesonamu tetap abadi selamanya di hatiku.

dari Kitab Layla Majnun, sedikit modifikasi

Kisah Cinta Sulaiman dan Bilqis

Judul buku: The Sacred Romance of King Sulaiman & Queen Sheba • Pengarang: Waheeda El-Humayra • Penerbit : Mizania, 2008 • Tebal  : 256 hal

Novel ini berkisah tentang cinta Nabi Sulaiman dan Bilqis (berarti permaisuri yang cantik, hal 102) yang diceritakan dengan sangat menarik oleh penulisnya. Pembaca tidak hanya diajak mengenal orang-orang besar di masa itu, tetapi juga dibawa menjelajahi peristiwa-peristiwa besar dan diseret ke dalam lorong waktu untuk merasakan suasana Jerusalem tiga ribu tahun yang lalu.

Saya cuplikkan surat cinta Ratu Sheba (Sulaiman memanggilnya dengan Bilqis) kepada Raja Sulaiman, setelah pertemuan mereka di Negeri Ursyalim. read more