Polis Asuransi

Semalam saya buka-buka file lama yang tersimpan di laci lemari. Di tumpukan map, saya menemukan polis asuransi ML yang umurnya hampir 15 tahun. Saya membuka map berlogo perusahaan asuransi ML yang di masanya termasuk dalam daftar perusahaan penyedia jasa asuransi, anuitas, dan program keuntungan perusahaan terbesar di dunia. Di sana terselip sebuah kuitansi pembayaran premi pertama yang jumlahnya sangat besar jika diukur di zaman dulu dan lumayan besar jika dinilai hari ini.

Saya jadi teringat seorang kawan yang datang kepada saya menawarkan produk asuransi ML.

Selayaknya karib yang lama tak bertemu, kunjungan seorang kawan (tepatnya, ia adalah kakak kelas tiga tingkat di atas saya saat kuliah dulu sekaligus kawan seorganisasi mahasiswa) ke kantor saya sambut dengan suka cita. Di tengah obrolan saya terkejut setengah mati ketika ia menawarkan asuransi pensiun. Kenapa saya terkejut sebab baru ketahuan kalau kedatangannya ke kantor saya tidak sebagai kawan yang lama tak bertemu namun sebetulnya sudah punya agenda khusus menawarkan asuransi. lanjutkan baca

Mahesa Jenar

Beberapa hari ini saya membaca raut muka seorang kawan agak bruwet. Baru hari ini saya berhasil ngobrol dengannya, sambil ngopi ditingkahi rinai hujan di luar sana. Wajahnya sudah agak cerah jika dibandingkan hari-hari yang lalu.

Ia bercerita tentang anak lanangnya, sebut saja namanya Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar – kawan saya memberi nama kepada anak lanangnya itu terinspirasi dari SH Mintardja – tahun ini lulus SMA. Cita-citanya sejak SMP dulu ingin jadi prajurit bhayangkari negeri. Syahdan, begitu lulus SMA ia mendaftar jadi calon prajurit dengan restu bapaknya.

Tahapan tes ia lalui, hingga tes tahapan ketiga ia gugur. Sebelumnya ia sudah berpesan kepada bapaknya agar bertindak lurus-lurus saja, tanpa ada tindakan menyuap dengan jumlah uang tertentu yang dijanjikan orang yang katanya bisa meloloskan tes. Mahesa Jenar sikapnya biasa-biasa saja meskipun nggak lolos seleksi. Ia berharap tahun depan bisa ikut tes lagi.

Untuk mengisi waktu, ia minta kepada bapaknya untuk diizinkan masuk Fak. Hukum, di sebuah universitas swasta. Cita-cita mulianya adalah menjadi penegak hukum yang jujur dan lurus. Bapaknya menuruti keinginan Mahesa Jenar. lanjutkan baca

Kopiah amoh

Saban jumatan di mesjid yang ini, saya kok selalu duduk pas di shaf belakang seorang anak muda yang memakai kopiah amoh. Kenapa saya sebut amoh, sebab bagian atas kopiah yang ia kenakan dalam keadaan berlubang dan di pinggiran lubang terlihat benang-benangnya berantakan. Amoh dalam bahasa Jawa berarti rusak karena berlubang/sobek biasa untuk benda yang berbahan kain.

Kebiasaan anak muda ini setelah selesai shalat sunat, ia akan menyalami orang-orang di sekitarnya. Mereka yang duduk di kanan-kirinya dan depan-belakangnya  akan mendapatkan jatah jabat erat tangannya. Karena sering mendapatkan salam seperti itu, maka jika mau masuk mesjid atawa selesai jumatan saya dan ia sering saling lempar senyum.

Jumat minggu lalu, sengaja saya membawa kopiah dari rumah. Ada dua kopiah yang saya bawa, baru dan bekas pakai. Modelnya mirip kopiah yang sering ia pakai, yakni model kopiah haji. Selesai jumatan saya menunggu ia yang masih berdoa. Sambil berjalan keluar mesjid, saya berikan dua kopiah tersebut. lanjutkan baca