Sedikit di bawah standar, cara jitu menikmati hidup

Terakhir kali saya menulis di The Padeblogan, pada Sabtu minggu lalu dan sekarang baru sempat nulis lagi. Dunia nyata saya memang sedang lucu-lucunya. Waktu saya praktis habis di jalanan. Bayangkan saja, dari rumah ke kantor yang dulu-dulu bisa saya tempuh dalam 30 menit, beberapa minggu ini bisa membengkak hingga 3 jam. Pulang-pergi memerlukan waktu kisaran 5 jam! Hal ini membuat capek fisik dan fikiran.

Luar biasa kemajuan kota Karawang. Semua merk otomotif pabriknya ada di Karawang. Efek dominonya, sarana penunjang mau tidak mau dibangun di sekitarnya. Perumahan kelas elit lengkap dengan segala fasilitasnya hingga RSS, ada. Hotel-hotel berbintang mulai dibangun di koridor jalan masuk kota Karawang. Masyarakat kelas menengah jumlahnya naik tajam. Mobil-mobil baru berkeliaran, sementara ruas jalan yang  ada tidak bertambah. Maka, macetlah akibatnya.

Tol Jakarta-Cikampek tak ada cerita lagi dalam kondisi lancar jaya. Saban hari macet, entah disebabkan oleh kelebihan jumlah kendaraan yang lewat atawa kecelakaan yang sering terjadi. Cilakanya, beberapa hari ini saya sering dinas ke Jakarta. Habis subuh kudu segera keluar rumah, agar tidak terlalu kena macet di tol. Tapi itu jarang terjadi, sebab selalu kena macet. Kalau saya berangkat jam 05.30, sampai di sekitaran Prapatan Mampang jam 09.00 atawa kadang lebih. read more

Polis Asuransi

Semalam saya buka-buka file lama yang tersimpan di laci lemari. Di tumpukan map, saya menemukan polis asuransi ML yang umurnya hampir 15 tahun. Saya membuka map berlogo perusahaan asuransi ML yang di masanya termasuk dalam daftar perusahaan penyedia jasa asuransi, anuitas, dan program keuntungan perusahaan terbesar di dunia. Di sana terselip sebuah kuitansi pembayaran premi pertama yang jumlahnya sangat besar jika diukur di zaman dulu dan lumayan besar jika dinilai hari ini.

Saya jadi teringat seorang kawan yang datang kepada saya menawarkan produk asuransi ML.

Selayaknya karib yang lama tak bertemu, kunjungan seorang kawan (tepatnya, ia adalah kakak kelas tiga tingkat di atas saya saat kuliah dulu sekaligus kawan seorganisasi mahasiswa) ke kantor saya sambut dengan suka cita. Di tengah obrolan saya terkejut setengah mati ketika ia menawarkan asuransi pensiun. Kenapa saya terkejut sebab baru ketahuan kalau kedatangannya ke kantor saya tidak sebagai kawan yang lama tak bertemu namun sebetulnya sudah punya agenda khusus menawarkan asuransi. read more

Mahesa Jenar

Beberapa hari ini saya membaca raut muka seorang kawan agak bruwet. Baru hari ini saya berhasil ngobrol dengannya, sambil ngopi ditingkahi rinai hujan di luar sana. Wajahnya sudah agak cerah jika dibandingkan hari-hari yang lalu.

Ia bercerita tentang anak lanangnya, sebut saja namanya Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar – kawan saya memberi nama kepada anak lanangnya itu terinspirasi dari SH Mintardja – tahun ini lulus SMA. Cita-citanya sejak SMP dulu ingin jadi prajurit bhayangkari negeri. Syahdan, begitu lulus SMA ia mendaftar jadi calon prajurit dengan restu bapaknya.

Tahapan tes ia lalui, hingga tes tahapan ketiga ia gugur. Sebelumnya ia sudah berpesan kepada bapaknya agar bertindak lurus-lurus saja, tanpa ada tindakan menyuap dengan jumlah uang tertentu yang dijanjikan orang yang katanya bisa meloloskan tes. Mahesa Jenar sikapnya biasa-biasa saja meskipun nggak lolos seleksi. Ia berharap tahun depan bisa ikut tes lagi.

Untuk mengisi waktu, ia minta kepada bapaknya untuk diizinkan masuk Fak. Hukum, di sebuah universitas swasta. Cita-cita mulianya adalah menjadi penegak hukum yang jujur dan lurus. Bapaknya menuruti keinginan Mahesa Jenar. read more