Hidup ini sederhana

Hidup ini sederhana, hindari mengurus yang bukan urusannya, hindari mengomentari yang tidak diketahui duduk perkaranya.

Kalimat di atas saya dapatkan dari twitter MQ Travel, dan saya setuju 100%. Hidup itu memang (sangat) sederhana dan sebuah pilihan: mau jadi orang baik atawa jadi orang jahat.

Kita saja yang menjadikan rumit. Indikatornya apa? (Selalu) sakit hati dan (suka) berprasangka buruk  kepada orang lain.

Zaman dulu, nekjika seseorang berprasangka buruk atawa mengomentari sesuatu yang tidak tahu duduk perkaranya, lalu ia menceritakan kepada orang terdekatnya – yang kalau menyebar ke orang lain lagi, akan memakan waktu lama. Lha kini, orang begitu mudah menyatakan “lisan” dan isi hatinya di pesbuk, twiter, blog, dan sebangsanya, lalu dalam waktu singkat seluruh dunia membaca dan saling mengomentari.

Bayangkan, jika yang dinyatakan itu aib seseorang, yang, lagi-lagi karena mengurus yang bukan urusannya dan mengomentari yang tidak diketahui duduk perkaranya, betapa dahsyatnya dampak buruknya. Celakanya, kita tak mungkin dapat menghapus apa yang menjadi dampak buruk itu, karena sudah tersebar sangat luas di dunia maya. Sebuah dunia yang kita tak tahu persis di mana ada perempatan, jalannya lurus apa berbelok, mentok di tembok atawa jatuh di jurang. 

Mari menjadi orang baik dengan memperbaiki diri secara terus-menerus dan tiada henti, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Di dunia nyata sangat mudah untuk berbuat baik. Cara paling sederhana ya seperti kutipan kalimat di awal artikel ini. Sedangkan di dunia maya, menurut saya, juga sangat mudah, kita buka dan baca kembali blog, pesbuk, twiter dan media sosial lainnya yang menjadi milik kita: edit kalimat negatif, hapus kalimat penebar aib dan sebarkan kalimat positif dan inspiratif.

Masih rumit?

Nggak kan?

 

Kebiasaan makan yang baik

Saat saya sedang menyelesaikan artikel Betah?, ekstensen saya berbunyi dan terdengar suara resepsionis kalau saya kedatangan tamu yang bernama Mas Purwo. Saya berhenti menulis dan buru-buru menemui tamu, yang menurut saya, sangat spesial.

“Apa kabar, mas. Wah… wah… elok tenan, panjenengan ini kok nggak bisa tua sih mas. Awet nom terus!” saya jabat tangannya dan kami berpelukan hangat.

Apik… apik, kabar baik. Sampeyan sendiri bagaimana, sehat?” tanya Mas Purwo sambil menarik kursi.

“Alhamdulillah, sehat mas!” jawab saya. Tanpa sadar kalimat saya itu diakhiri dengan batuk kecil.

“Nah, batuk. Berarti nggak sehat tuh ha..ha… Hati-hati jangan terjebak dengan kondisi tubuh kita karena sehat itu tidaklah sama dengan tidak sakit. Atawa kalau dibalik, tidak sakit tidaklah sama dengan sehat,” tuturnya kalem. read more

Betah?

Hampir saban hari saya bertemu dengan orang baru, yakni orang yang baru saja saya kenal. Mereka bertamu dan kami pun bertemu. Ya, tupoksi saya memang berkaitan dengan pelayanan kepada klien. Dalam pertemuan yang kami lakukan, ada yang to the point ke pokok masalah, tanpa basa-basi. Namun, sering juga ngobrol ngalor-ngidul dulu sebelum menyampaikan maksud dan tujuannya.

Nah, saat berbasa-basi itulah saya sering mendapatkan pertanyaan: “sudah berapa lama bekerja di perusahaan ini?” Saya jawab, “Baru mau dua puluh tahun.” Reaksi mereka macam-macam, tapi benang merah gumun-nya: “kok betah, sih?” read more