Jagalah lisan dan jemari juga

Nasihat orang bijak zaman dulu supaya kita menjaga lisan masih sangat relevan hingga sekarang. Menjaga lisan berarti menjaga lidah, supaya ia memberikan ucapan yang baik dan bermanfaat. Orang bijak juga memberi pelajaran bahwa tajamnya lidah melebihi tajamnya pedang. Orang yang tertusuk pedang bisa melupakan sakit dan perihnya luka, namun jika hati tertusuk tajamnya lidah, bekasnya terasa seumur-umur.

Zaman semakin modern, tak hanya lisan yang mesti terjaga tetapi juga jemari kita. Mungkin mulut kita terkunci rapat-rapat saat online, namun jemari kita sangat aktif dan lincah menari-nari di atas papan-kunci.  Ya, di layar monitor kita sering lepas kendali terhadap jemari-jemari kita.

Pergaulan kita saat ini mayoritas ada di dunia maya. Dunia yang pernah saya gambarkan sebagai ruang yang tak diketahui di mana sudutnya, ada berapa pintu dan jendela, berbentuk bulat atawa kotak, namun kita dapat berlama-lama berada di sana. Di dunia maya ada hubungan interaksi yang disebut sebagai jejaring sosial. read more

Memberi tak pernah rugi

Sanak saudara, teman dan kenalan yang kesulitan juga saya bantu. Karena membantu orang tak membuat saya miskin. Bila ditahan uang itu juga tak membuat saya lebih kaya.
(Dikutip dari jawaban seorang hakim yang diwawancarai wartawan TEMPO)

Kita ingat, hitungan paling dasar dari matematika adalah KALIBATAKU (kali, bagi, tambah dan kurang). Dalam prinsip bersedekah, hitungan matematika menjadi sangat ajaib. Bersedekah berarti membagi yang hasilnya bukan menjadi sedikit justru berkali lipat sedangkan kalau mengurangi hasilnya nanti akan bertambah banyak. Ingat, bersedekah bukan untuk diwacanakan, namun dipraktekkan!

Ada orang beranggapan kalau sudah berzakat nggak perlu lagi bersedekah atawa bahkan menyamakan keduanya. O, itu nggak bener. Zakat ada hitung-hitungannya yang jelas dan adil, ia wajib ditunaikan. Sedangkan sedekah jumlahnya tidak ditentukan, tidak wajib ditunaikan namun akan jauh lebih baik nekjika dilakukan dalam keadaan lapang atawa sempit. Tak ada orang jatuh miskin gara-gara membayar zakat atawa memberikan sedekah.

Di harta kita ada hak orang miskin, makanya dizakati. Rejeki yang sampai di tangan kita, pasti ada peran orang lain, makanya kita memerlukan bersedekah.

Mulai sekarang ubah paradigma dan kebiasaan bersedekah kita “sedikit tapi ikhlas” menjadi “banyakan dikit, ikhlas dan terus-terusan“.

Amanah

… amanah dedek tetap ada ditangan Abi dan Ummi. Kelak, Allah hanya akan meminta pertanggungjawaban dari Abi dan Ummi, bukan yang lainnya…. Ummi, ingat ya! Sekalipun Ummi sanggup membayar guru sehebat apapun, sanggup menyekolahkan ke pesantren paling wokeih sekalipun, sanggup membayar pembantu setinggi apapun…. Tetap sentuhan kasih sayang dan pendidikan dari Abi dan Ummi akan membuat dedek menjadi orang yang berbeda. Kelak, Allah lah yang akan mengganti seluruh pengorbanan Abi dan Ummi, termasuk memberi sanksi saat Abi dan Ummi melalaikan dedek…

dikutip dari blog milik seorang Ummi from Salatiga

Dalam ritual perenungan malam, saya sering mbabar jati diri dalam eka-wicara sambil membayangkan kehidupan saya paska kematian saya nantinya. Karena kematian adalah keniscayaan, maka kewajiban saya mengumpulkan bekal amal soleh sebanyak-banyaknya. Saya nggak mau masuk surga sendirian, kurang asyik. Di dalam surga dengan keluarga besar (maksudnya sampai ke anak-cucu) tentu suasananya jauh lebih indah dan meriah1.

Tapi upaya apa yang sudah saya lakukan untuk bisa ke surga bersama-sama keluarga besar saya?

Setiap manusia yang sudah berkeluarga tentu mendambakan sebuah rumah yang menenteramkan hati semua penghuninya. Tolok ukur paling sederhana jika anggota keluarga merasakan: rumahku surgaku. read more